
DENPASAR, Letternews.net — Pernyataan Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, yang menjanjikan pendanaan operasional bagi organisasi kemasyarakatan (ormas) jika terpilih menjadi Gubernur Bali (Bali Satu), terus menuai kecaman. Kali ini, kritik pedas datang dari tokoh masyarakat Bali asal Buleleng yang lama tinggal di Miami, Florida, Amerika Serikat. Gede Angastia alias Anggas yang juga Aktivis antikorupsi Bali
Dalam wawancara eksklusif pada Senin (11/5/2026), tokoh yang dikenal vokal ini menilai pernyataan tersebut tidak hanya tidak etis, tetapi juga menunjukkan ambisi pribadi yang melampaui tugasnya sebagai wakil kepala daerah.
[irp]
Ia menilai sikap Giri Prasta yang memberikan janji politik mendahului tahapan resmi merupakan contoh buruk bagi generasi muda.
“Secara etika, sikap seperti itu tidak memberikan pendidikan politik yang baik. Seharusnya sebagai Wagub, beliau fokus membantu Gubernur menyukseskan visi misi yang ada. Ibarat kata, ini sudah seperti kuping ngelewatin tanduk,” tegasnya.
Menurutnya, masih banyak janji kampanye sebelumnya yang belum tuntas, seperti realisasi hibah yang tertunda, masalah sampah yang kian darurat, alih fungsi lahan, hingga kemacetan dan keamanan Bali.
[irp]
Sorotan tajam juga diarahkan pada mekanisme anggaran. Tokoh ini mempertanyakan dari mana sumber dana untuk membiayai operasional ormas tersebut. Jika menggunakan APBD, ia menilai hal itu sangat tidak patut karena bukan merupakan skala prioritas pembangunan bagi masyarakat Bali yang lebih luas.
“Kalau sumbernya APBD, apakah prosedurnya memenuhi mekanisme penganggaran? Janji ini mungkin menarik bagi kelompok tertentu, tapi bagi kepentingan Bali yang besar, ini sangat patut dipertanyakan,” lanjutnya.
Ia menyarankan daripada menjanjikan dana untuk ormas, lebih baik meningkatkan kesejahteraan Pecalang di desa-desa adat. “Pecalang jelas-jelas ngayah kepada masyarakat berdasarkan bhakti. Itu yang seharusnya dioptimalkan,” tambahnya.
[irp]
Tokoh Buleleng ini juga menyayangkan lemahnya peran tim ahli komunikasi sang Wagub yang dinilai gagal memberikan edukasi sebelum statemen tersebut dilempar ke publik, sehingga berakhir dengan respon negatif dan “digulung” komentar miring netizen di media sosial.
“Maaf Bapak Wagub, saya hormat kepada Bapak. Tapi besok-besok tolong, sebelum bicara pikirkan dampak jangka pendek dan menengahnya. Berbenahlah agar situasi di Bali tetap kondusif,” pungkasnya.
Editor: Rudi.