
DENPASAR, Letternews.net – Di tengah dinamika geopolitik global dan geoekonomi yang kian bergejolak, advokat sekaligus pemerhati sosial Bali, I Made Somya Putra, menyampaikan pokok-pokok pikiran mendalam melalui refleksi bertajuk Catatan Senja. Ia mengimbau krama Bali dan bangsa Indonesia untuk tetap tenang, rasional, serta tidak mudah terjebak dalam perang kognitif (cognitive warfare) yang sengaja diembuskan untuk merusak fokus serta persatuan nasional.
Somya Putra menekankan bahwa fenomena antrean dan gangguan penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi saat ini bukanlah bentuk kelalaian semata, melainkan bagian dari guncangan geopolitik dunia yang sudah terprediksi.
Langkah strategis pemerintah pusat maupun daerah seperti percepatan program B50, penggenjotan E20, pemberian insentif kendaraan listrik, hingga konsistensi mempertahankan subsidi BBM untuk rakyat kecil di tengah tingginya harga petrodolar merupakan bukti nyata keberpihakan negara meskipun harus menguras devisa.
“Sebagai penonton setia ulasan geopolitik dan geoekonomi, saya sama sekali tidak menyalahkan pemerintah, baik pusat maupun daerah dalam situasi langkanya BBM saat ini. Saya tahu pemerintah pusat dan daerah telah melakukan yang terbaik dan bergotong royong melakukan apa pun yang mereka bisa. Keputusan mempertahankan subsidi minyak untuk masyarakat kecil di tengah naiknya nilai dolar adalah pilihan berani,” ungkap I Made Somya Putra.
Dalam catatannya, Somya memperingatkan masyarakat agar mewaspadai rentetan serangan psikologis dan disinformasi masif yang sengaja disebar melalui media sosial. Setelah isu krisis BBM dan tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), narasi ketakutan akan terus diproduksi untuk menciptakan kepanikan publik.
Ia mengkritik keras oknum-oknum yang memanfaatkan situasi sulit ini sekadar untuk mencari panggung politik, menyebarkan narasi kebencian, hingga merendahkan harkat negeri sendiri dengan sebutan “Konoha”.
“Cara membedakan mana pejuang rakyat dan mana politisi, tinggal lihat di medsos. Kalau ia hanya menyalahkan pemerintah, mencari kejelekan pemimpin, dan menambah riuh situasi, maka fix pikirannya telah terpropaganda. Setiap negara memiliki masalah rumitnya masing-masing, tetapi penyebar propaganda akan selalu berusaha membuat warga menyebut Ibu Pertiwinya dengan sebutan ‘Konoha’,” tegasnya.
Menghadapi situasi tantangan global ini, Somya mengajak masyarakat untuk belajar dari pengalaman berharga saat menghadapi pandemi Covid-19 lalu. Kuncinya adalah menyaring informasi secara bijak, mengurangi mobilitas yang tidak perlu, berhemat secara terukur, serta mempraktikkan ajaran kearifan lokal (local wisdom) warisan para leluhur.
“Mari kita seperti air yang mengalir tanpa harus membuat riak ombak. Kurangi bepergian dan berhemat secara tepat. Ikuti saja ajaran-ajaran leluhur yang sudah diwariskan, maka kepanikan tidak perlu terjadi. Tenang saja dan jalani hidup apa adanya. Walaupun susah, percayalah hal ini akan dapat kita lewati bersama. Rahayu,” pungkas I Made Somya Putra.
BACA JUGA:Menag Sampaikan Pesan untuk Masyarakat