
BANGLI, Letternews.net – Suasana khidmat dan penuh kegembiraan dalam perayaan Manis Galungan di kawasan pariwisata Kintamani mendadak dinodai oleh aksi tidak terpuji. Sebuah rekaman video amatir berdurasi singkat mendadak viral di jagat media sosial, memperlihatkan duel sengit fisik antara dua orang remaja putri tepat di kawasan objek wisata Museum Gunungapi Batur, Penelokan, Kintamani, Bangli.
Insiden memalukan tersebut berhasil diabadikan secara jelas oleh seorang netizen yang kebetulan berada di seberang lokasi kejadian. Video yang menyebar cepat melalui jaringan grup WhatsApp dan platform Instagram itu langsung memancing kecaman serta keprihatinan luas dari netizen Bali.
Berdasarkan rekaman visual yang beredar, kedua remaja perempuan tersebut tampak terbawa emosi yang sangat tinggi. Saking menggebu-gebunya amarah, salah satu remaja putri tersebut bahkan sampai lupa menurunkan standar atau dongkrak sepeda motornya. Kendaraan roda dua miliknya dibiarkan begitu saja hingga terjatuh di aspal demi bisa segera melabrak sang rival.
[irp]
Hingga kini, latar belakang pasti dari perseteruan dua remaja putri ini masih dalam tahap penyelidikan pihak berwenang. Namun, berdasarkan desas-desus informasi di lapangan serta narasi yang beredar di kalangan netizen, kuat dugaan motif perkelahian tersebut dipicu oleh masalah asmara atau perebutan perhatian seorang laki-laki.
Kedua remaja putri yang mengenakan pakaian kasual tersebut terlihat saling jambak, dorong, dan melempar pukulan tanpa memedulikan situasi sekitar yang saat itu tengah ramai dikunjungi warga yang sedang menikmati libur Manis Galungan.
Aksi adu jotos di depan destinasi wisata edukasi terkemuka di Bali ini sangat disayangkan oleh para tokoh masyarakat setempat. Tempat yang seharusnya menyajikan pemandangan indah Gunung dan Danau Batur, justru dinodai oleh perilaku anarki yang mencederai kesucian hari raya.
[irp]
Selain menyoroti perilaku agresif kedua remaja, netizen juga menyayangkan sikap beberapa orang di sekitar lokasi yang dinilai lambat dalam melerai perkelahian. Sebagian besar saksi mata justru memilih menonton dan merekam kejadian tersebut menggunakan ponsel pintar masing-masing.
Aparat kepolisian sektor Kintamani disinyalir tengah menelusuri identitas para pelaku video viral tersebut untuk dilakukan pembinaan moral serta pemanggilan pihak orang tua, mengingat para pelaku diduga kuat masih berstatus sebagai anak di bawah umur.
Editor: Rudi.