
DENPASAR, Letternews.net – Gelombang gerakan moral yang menuntut tata kelola pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktik korupsi terus bermunculan di Pulau Dewata. Sejumlah organisasi masyarakat sipil dan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Konsorsium Suara Pemuda Kristen Bali secara resmi mendeklarasikan Manifesto Publik di Denpasar, Jumat (10/7/2026).
Gerakan ini lahir sebagai respons konkret atas situasi nasional yang dinilai masih diwarnai praktik manipulasi, keserakahan, serta penyalahgunaan anggaran di dalam birokrasi. Mereka menyuarakan penolakan keras terhadap politik utang hingga proyek-proyek nasional yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan rakyat bawah.
[irp]
Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Badung, Josua Synocto Hutabarat, menegaskan bahwa kebijakan publik semestinya murni menjadi instrumen kesejahteraan masyarakat, bukan ruang bagi kepentingan kelompok tertentu yang memburu rente kekuasaan.
“Di bawah terang Firman Tuhan yang sejati, kami siap berdiri di garis depan untuk menolak budak utang dan bancakan proyek nasional, serta menuntut etika Ilahi dalam kebijakan publik,” tegas Josua secara lantang saat membacakan poin-poin manifesto.
Dalam deklarasi tersebut, konsorsium secara spesifik menyoroti sejumlah program strategis nasional agar dipastikan berjalan transparan dan akuntabel tanpa celah korupsi. Program-program tersebut di antaranya:
Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Koperasi Desa Merah Putih (KMDP)
Kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
Konsorsium mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas tanpa pandang bulu terhadap para koruptor, sekaligus meminta pemerintah melakukan pembersihan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari praktik pungli dan korupsi secara berkelanjutan.
[irp]
Gerakan moral pemuda ini juga menuntut Pemerintah Pusat, Pemprov Bali, serta DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali untuk membuka ruang partisipasi yang luas bagi masyarakat sipil dan mahasiswa sebagai mitra kritis dalam mengawal kebijakan.
Suara dari Dunia Kampus: Dukungan penuh mengalir dari dunia akademisi. Rektor Sekolah Tinggi Teologia Cornerstone (STTI-C), Pdt. Dr. David Henry Parera, menyatakan bahwa institusi pendidikan memiliki tanggung jawab moral melahirkan suara-suara kritis demi menyelamatkan masa depan bangsa.
“Kita berharap konsorsium ini terus berkembang. Kita tidak boleh diam. Kalau kita diam, Indonesia akan memiliki masalah besar. Perlu ada suara-suara kritis yang datang dari dunia kampus,” ujar Pdt. Henry Parera.
Melalui manifesto ini, Pemuda Kristen Bali berkomitmen menjadikan gerakan ini sebagai wadah ilmiah dan rohani yang terarah dan berbobot demi tegaknya nilai-nilai integritas, keadilan, dan tata kelola pemerintahan yang bersih di Indonesia.
Editor: Rudi
Mari bergabung bersama kami!
Gabung di saluran Whatsapp resmi kami: Klik di Sini
Gabung di Grup Whatsapp Pembaca Setia kami: Klik di Sini