Penumpang KMP Samudera Utama Terjatuh ke Laut, Berhasil Dievakuasi di Perairan Gilimanuk-Ketapang
Kartini Modern dari Pematang Sawah: Kisah Meilanie Ary Sandi Bangun Bisnis Tani Lewat BRImo
REGENERASI PETANI: Meilanie Ary Sandi (23) saat menunjukkan hasil pertaniannya di Tabanan. Sebagai Kartini muda, ia menggabungkan kearifan lokal dengan teknologi digital perbankan BRImo untuk membawa pertanian Bali ke level yang lebih modern dan mandiri.

TABANAN, Letternews.net — Sosok Kartini masa kini tidak lagi identik dengan seragam kantor atau dunia profesional perkotaan. Di hamparan sawah Kabupaten Tabanan, Bali, semangat emansipasi justru tumbuh subur. Generasi muda perempuan kini membuktikan bahwa bertani bukan lagi pekerjaan kelas dua, melainkan pilihan hidup yang menjanjikan dan relevan dengan teknologi.
Adalah Ni Putu Meilanie Ary Sandi (23), seorang petani muda yang memilih melanjutkan jejak sang ayah. Meski awalnya hanya mencoba, Meilanie kini justru menemukan peluang besar di sektor agraris.
“Awalnya saya tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Sejak pandemi, kami mulai serius turun ke lahan. Ternyata bertani itu seru dan menantang,” ujar Meilanie saat ditemui di lahannya, Selasa (21/4).
Bagi Meilanie, bertani zaman sekarang jauh dari kesan berat dan kotor. Ia menerapkan inovasi sederhana seperti penggunaan mulsa jerami hingga racikan pupuk organik mandiri yang lebih efisien. Tak hanya di sisi produksi, Meilanie juga piawai memanfaatkan media sosial untuk memasarkan hasil panennya langsung ke hotel dan restoran.
“Sekarang lebih banyak komunikasi lewat media sosial. Peluangnya terbuka lebar karena relasi di sektor pariwisata sudah percaya dengan kualitas kami,” tambahnya.
Dalam mengelola perputaran modal usahanya, Meilanie mengandalkan layanan perbankan digital. Ia mengaku sangat terbantu dengan aplikasi BRImo dari Bank BRI. “Sekarang saya pakai BRImo. Fiturnya simpel dan lengkap, sangat memudahkan untuk transaksi kebutuhan operasional tani kapan saja tanpa harus ke bank,” ungkapnya.
Dukungan terhadap “Kartini Hijau” ini juga ditegaskan oleh Regional CEO BRI Denpasar, Hery Noercahya. Ia menyampaikan bahwa BRImo hadir untuk mendorong inklusi keuangan dan memperkuat peran perempuan sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.
“Melalui BRImo, kami ingin memberikan kemudahan akses bagi petani masa kini agar bisa mengembangkan usahanya secara modern dan berkelanjutan. Perempuan di sektor pertanian memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional,” tutur Hery.
Meilanie berharap, kisahnya dapat menginspirasi perempuan muda lainnya untuk tidak ragu terjun ke sawah. Baginya, perempuan yang mandiri dan menguasai teknologi pertanian adalah kunci kedaulatan pangan di masa depan.
Editor: Rudi.







