Viral Curhatan ‘Zonk’ di Jalur MiChat: Waspada Modus Pemerasan dan Intimidasi Berkedok Tarif Murah!

 Viral Curhatan ‘Zonk’ di Jalur MiChat: Waspada Modus Pemerasan dan Intimidasi Berkedok Tarif Murah!

Foto: Ilustrasi

DENPASAR, Letternews.net — Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan kisah kurang menyenangkan yang dialami seorang pria saat bertransaksi melalui aplikasi MiChat di kawasan Mahendradatta, Denpasar. Niat hati mencari hiburan dengan tarif murah, pria tersebut justru mengaku menjadi korban intimidasi dan pengancaman oleh oknum penyedia jasa.

Melalui unggahan yang viral pada Minggu (10/5/2026), korban menceritakan kronologi kejadian yang terjadi di salah satu penginapan di kawasan tersebut. Kejadian ini menjadi peringatan keras bagi warga agar tidak mudah tergiur dengan tarif rendah yang sering kali menjadi pintu masuk tindak pemerasan.

BACA JUGA:  20 Tanah dan Bangunan Terkait TPPU Abdul Gani Kasuba di Sita KPK

Modus Bayar Dulu, Intimidasi Kemudian

Kejadian bermula saat korban memesan jasa melalui aplikasi dengan kesepakatan harga Rp150 ribu. Setibanya di lokasi, korban diarahkan ke sebuah kamar. Namun, kejanggalan mulai terjadi ketika oknum wanita berinisial ‘X’ tersebut memaksa korban untuk melakukan pembayaran di muka melalui transfer sebelum layanan diberikan.

Pasca transfer dilakukan, situasi berubah drastis. Oknum wanita tersebut mulai memicu adu mulut dengan tuduhan yang tidak berdasar. Korban mengaku diintimidasi dengan nada tinggi, bahkan mendapatkan ancaman mistis (guna-guna) hingga pengancaman fisik jika tidak segera menyelesaikan durasi dalam waktu satu menit.

“Saya sudah muak dan jengkel. Akhirnya saya pilih mengikhlaskan uang tersebut dan keluar room tanpa melakukan apa pun demi keamanan saya,” ungkap korban dalam tulisan singkatnya.

BACA JUGA:  Tutup Bina Posyandu X 2026, Putri Koster Dorong Kader Gercep dan Adaptif Terhadap Transformasi Pelayanan

Resepsionis Dinilai Kurang Kooperatif

Satu hal yang disayangkan korban adalah sikap pihak pengelola atau resepsionis penginapan yang terkesan melakukan pembiaran. Meski sempat dimintai bantuan untuk menengahi perselisihan, pihak resepsionis disebut tidak memberikan tindakan tegas terhadap keributan yang terjadi di area penginapan tersebut.

Fenomena ini menambah daftar panjang kasus keributan dan penipuan yang bermula dari aplikasi kencan. Keamanan di penginapan-penginapan kelas melati kini kembali menjadi sorotan publik, terutama terkait filter tamu dan potensi pembiaran terhadap praktik yang merugikan pelanggan.

BACA JUGA:  PHRI Sikapi Penipuan Money Changer

Pesan Untuk Masyarakat

Di akhir ceritanya, korban mengingatkan warga net agar tidak mudah tergiur dengan tarif murah di aplikasi. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bahwa keselamatan dan ketenangan jauh lebih berharga daripada mencari hiburan melalui jalur yang berisiko tinggi secara hukum maupun keamanan pribadi.

Editor: Rudi.

.
Bagikan: