Menyelami ‘Kredo Seorang Ibu’: Refleksi Mendalam Putri Suastini Koster Tentang Cinta dan Pengabdian Sunyi

 Menyelami ‘Kredo Seorang Ibu’: Refleksi Mendalam Putri Suastini Koster Tentang Cinta dan Pengabdian Sunyi

Foto: Simak makna mendalam puisi ‘Kredo Seorang Ibu’ karya Ni Putu Putri Suastini Koster. Sebuah refleksi pengabdian sunyi dan kekuatan cinta dari Jayasabha.

DENPASAR, Letternews.net — Di tengah kesibukan mendampingi dinamika pembangunan Bali, sebuah pesan menyentuh lahir dari balik dinding Jayasabha. Ni Putu Putri Suastini Koster, yang dikenal luas sebagai sosok budayawan sekaligus Ketua TP PKK Provinsi Bali, menumpahkan filosofi hidupnya melalui sebuah puisi berjudul “Kredo Seorang Ibu” pada Mei 2026.

Puisi ini bukan sekadar barisan kata berima, melainkan sebuah pernyataan iman (kredo) tentang bagaimana cinta seorang ibu mampu mengubah hal-hal kecil menjadi sebuah kesejatian yang besar.

BACA JUGA:  Resmikan Gedung MUI Bali, Gubernur Koster Ajak Seluruh Umat Jaga Keharmonisan Gumi Bali

Filosofi Pengabdian Tanpa Pamrih

Dalam bait-bait awalnya, Putri Suastini menegaskan posisi dirinya sebagai manusia bersahaja yang tidak berambisi menggenggam dunia. Ia memilih setia pada “urusan sederhana”—sebuah metafora untuk kepedulian terhadap detail kehidupan rakyat dan keluarga yang sering kali luput dari perhatian besar.

“Pengabdianku adalah perjuangan seorang Ibu. Kusediakan suluh agar kakimu tak terantuk batu,” tulisnya. Larik ini menggambarkan peran ibu sebagai penunjuk jalan dan pelindung, memastikan generasi berikutnya melangkah dengan aman menuju masa depan.

BACA JUGA:  Polisi Terima Delapan Laporan Penemuan Mayat Kurun Waktu 24 Jam

Cinta sebagai Sembahyang Paling Sunyi

Bagian yang paling kuat dari puisi ini adalah ketika ia menyebut bahwa melakukan hal kecil dengan kebesaran cinta adalah “sembahyang paling sunyi.” Ini adalah kritik halus sekaligus pengingat bahwa dedikasi sejati tidak membutuhkan riuh tepuk tangan atau kepalsuan puja-puji.

Putri Suastini juga secara puitis menyinggung tentang perlawanan “Sengkuni”—simbol kelicikan dan adu domba dalam wiracarita—sebagai kontras dari ketulusan seorang ibu. Ia menegaskan bahwa melalui rawatan seorang ibu, segala sesuatu yang kecil akan tumbuh mencapai kesejatian.

BACA JUGA:  Diskominfos Bali Fasilitasi Booster-2 untuk Media dan Masyarakat Umum

Resonansi Bagi Publik

Karya yang ditulis di Jayasabha ini seolah menjadi oase di tengah hiruk-pikuk isu sosial dan politik. “Kredo Seorang Ibu” mengajak pembaca untuk kembali pada nilai-nilai dasar kemanusiaan: ketulusan, kesetiaan pada tugas, dan kekuatan cinta yang mengasuh. Bagi publik Bali, karya ini mempertegas citra Putri Suastini sebagai sosok “Ibu” yang tidak hanya memimpin secara formal, tapi juga mengayuh dengan perasaan.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: