LetterNews
03 November 2026
12:20 WITA
Topik Populer:
#Letternews#KPK#PLN#Bali#Korupsi#Polda Bali#Wayan Koster#Denpasar#Pemkot Denpasar#OJK
15 January 2026 08:56 WITA
Penulis: Redaksi | Editor: Redaksi | Dipublikasikan: 15 January 2026, 08:56 WITA

Tragedi di SMKN 3: Guru Dikeroyok Siswa Saat Jam Sekolah, Berawal dari Teguran Berujung Viral Celurit

Foto: Ilustrasi

TANJAB TIMUR, Letternews.net – Dunia pendidikan di Provinsi Jambi digegerkan oleh insiden kekerasan di lingkungan SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Seorang guru bernama Agus Saputra dilaporkan menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswanya sendiri di lingkungan sekolah saat kegiatan belajar mengajar masih berlangsung, Selasa (13/01/2026).

Video pengeroyokan tersebut viral di media sosial, disusul potongan video lain yang memperlihatkan sang guru mengacungkan senjata tajam jenis celurit sebagai upaya membela diri dari kepungan massa siswa.

[irp]

Kronologi: Bermula dari Kata-Kata Tidak Pantas

Agus Saputra menjelaskan bahwa kejadian bermula pada Selasa pagi. Saat berjalan di depan kelas, ia mendengar salah satu siswa meneriakkan kata-kata yang dianggap menghina dan tidak sopan kepadanya.

“Dia (siswa) menegur dengan tidak hormat kepada saya saat belajar. Saya masuk ke kelas dan meminta siapa yang berteriak untuk mengaku. Namun, siswa tersebut justru menantang saya. Secara refleks, saya menampar wajahnya sebagai bentuk pendidikan moral,” ujar Agus, Rabu (14/01/2026).

[irp]

Dua Sisi Cerita: Motivasi atau Penghinaan?

Situasi semakin memanas saat mediasi dilakukan. Muncul versi berbeda dari pihak siswa. Sejumlah murid mengklaim keributan dipicu oleh perkataan Agus yang dinilai menghina salah satu murid dengan sebutan “miskin”.

Namun, Agus membantah tuduhan penghinaan tersebut. Ia berdalih kalimat itu dilontarkan sebagai bentuk motivasi. “Saya mengatakan, ‘kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam’. Itu konteksnya motivasi umum, tidak ada niat mengejek,” ungkapnya.

[irp]

Mediasi Buntu dan Pengeroyokan di Kantor

Mediasi yang melibatkan komite sekolah menemui jalan buntu karena perbedaan tuntutan. Siswa meminta guru meminta maaf, sementara Agus meminta siswa berubah atau membuat petisi keberatan atas kehadirannya mengajar.

Tragedi terjadi sesaat setelah mediasi. Saat Agus berjalan menuju ruang guru, sejumlah siswa melakukan aksi pengeroyokan. Tak berhenti di situ, hingga sore hari, para siswa dikabarkan terus mengepung dan melempari Agus dengan batu.

[irp]

Penjelasan Soal Video Celurit

Terkait video dirinya yang membawa celurit, Agus memberikan klarifikasi. Ia menegaskan hal itu murni untuk menggertak agar siswa membubarkan diri karena ia merasa terancam.

“Kami SMK Pertanian, peralatan seperti cangkul dan celurit memang ada di kantor. Saya ambil itu agar mereka bubar, tidak ada niat lain. Namun kenyatannya mereka tetap tidak bubar dan terus melempar batu ke arah saya,” terangnya.

Akibat kejadian ini, Agus mengalami luka memar di pipi dan badan. Ia telah melaporkan insiden ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dengan harapan ada penyelesaian yang adil dan perlindungan bagi tenaga pendidik.

Editor: Rudi.