
DENPASAR, Letternews.net – Penampilan kolosal dan penuh magis disuguhkan oleh Duta Kesenian Kota Denpasar dalam parade Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII (ke-48) Tahun 2026. Mengusung konsep adiluhung, Kota Denpasar sukses memukau ribuan pasang mata yang memadati sepanjang rute jalan di kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi), Renon, Sabtu (13/6/2026) sore.
Hajatan akbar PKB 2026 yang mengangkat tema sentral “Atma Kerthi: Jiwa Siwa Parisudha” ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster, didampingi Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Enik Ermawati, ditandai dengan pemukulan Kulkul secara sakral.
Hadir langsung di panggung kehormatan untuk memberikan dukungan penuh, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, didampingi Ketua GOW Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, bersama jajaran tokoh daerah lainnya.
[irp]
Sajian Peed Aya Kota Denpasar tahun ini dikemas sangat kolosal dengan melibatkan sedikitnya 700 peserta. Formasi ini terdiri dari perpaduan apik antara seniman tari, penabuh tabuh, Truna Truni Kota Denpasar, hingga keterlibatan aktif siswa-siswi sekolah.
Dikomandoi oleh Komunitas Sakti Manca, Duta Denpasar menyajikan garapan tematik bertajuk “Tattwa Parisuda Vasudhaiva Kutumbhakam”. Koordinator Pawai, Ida Bagus Eka Harista, menjelaskan bahwa struktur penampilan sengaja dibagi menjadi tiga segmentasi filosofis yang mendalam:
Segmen I (Vasudhaiva Kutumbhakam): Menampilkan keragaman busana adat, Tek-Tekan, Karnaval, Bungan Jaja, dan Uparengga. Segmen ini merefleksikan Denpasar sebagai ruang harmonis yang merawat konsep Menyama Braya (persaudaraan universal).
Segmen II (Kearifan Lokal Sakral): Menyajikan keluhuran tari klasik mulai dari Legong Manca (iringan Semara Pegulingan Sekehe Nada Acharya), Tari Barong (Sekehe Kubu Barong), hingga Tari Sang Hyang Dedari yang sakral dengan iringan barisan Pasepan.
Segmen III (Tematik & Modern): Menampilkan Garapan Tematik Wayang Sapuh Leger yang diiringi Gender Sekehe Sabda Kencana Sakti, dan ditutup secara dramatis oleh Ogoh-Ogoh Sapa Warang Banjar Gemeh karya maestro tersohor Marmar Herayukti bersama alunan Baleganjur Banjar Tengah Sidakarya.
[irp]
Melihat jalannya pawai yang tertib namun penuh energi magis, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, tidak dapat menyembunyikan rasa bangga dan apresiasi tingginya kepada seluruh seniman muda yang terlibat.
“Penampilan adik-adik peserta Peed Aya Kota Denpasar begitu memukau dan luar biasa. Mewakili Pemerintah Kota dan seluruh masyarakat Denpasar, saya mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan semangat tinggi yang ditunjukkan sore ini. Ini murni kebanggaan kota kita,” ujar Arya Wibawa dengan nada bangga.
Di sisi lain, Ida Bagus Eka Harista yang akrab disapa Gus Eka, menjabarkan esensi teologis dari konsep yang mereka bawa. Menurutnya, Tattwa Parisuda adalah sebuah dialektika spiritual antara kesadaran hakiki dan purifikasi eksistensial batin manusia dari noda (mala) menggunakan ketajaman spiritual (wiweka).
“Konsep ini menyatukan kejernihan pikiran (manacika) dengan integritas tindakan (kayika). Melalui karya ini, kami ingin menyampaikan pesan bahwa evolusi kesadaran manusia harus kembali pada esensi yang nirmala menuju kebenaran mutlak,” pungkas Gus Eka.
Editor: Rudi.