Surat Terbuka Presiden Iran: Adu Mekanik Narasi Melawan Dominasi Militer AS

 Surat Terbuka Presiden Iran: Adu Mekanik Narasi Melawan Dominasi Militer AS

Foto: Ketua JMSI Jabar Sony Fitrah Perizal membedah makna surat terbuka Presiden Iran Masoud Pezeshkian kepada rakyat AS sebagai perang narasi modern.

BANDUNG, Letternews.net – Langkah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang mengirimkan surat terbuka langsung kepada rakyat Amerika Serikat, dinilai bukan sekadar prosedur diplomatik formal. Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Barat, Sony Fitrah Perizal, menyebut langkah ini sebagai manuver strategis di tengah eskalasi konflik global yang kian memanas.

Menurut Sony, dalam lanskap perang modern, kemenangan tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan peluru dan rudal, melainkan oleh penguasaan narasi, opini, dan legitimasi moral di mata dunia.

BACA JUGA:  Hampir 3 Tahun Akhirnya Kasus Pemukulan Terhadap Anggota DPD RI AWK Ditetapkan Tersangka

“Pernyataan Iran bahwa mereka ‘tidak pernah memulai perang’ adalah desain narasi besar untuk memposisikan diri sebagai korban, bukan agresor. Dalam geopolitik kontemporer, siapa yang memenangkan narasi memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat,” ungkap Sony dalam keterangannya, Jumat (29/3/2026).

Membelah Persepsi Rakyat dan Elite Washington Sony menyoroti perbedaan kontras antara pendekatan Iran dan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Jika Trump mengandalkan “tekanan maksimal” dan ancaman terhadap infrastruktur, Iran justru menyasar titik lunak AS: opini publik domestiknya sendiri.

“Iran mencoba menanamkan keraguan di dalam negeri Amerika. Mereka ingin rakyat AS bertanya, apakah perang ini demi kepentingan rakyat atau hanya agenda geopolitik sempit elite politik?” jelasnya.

BACA JUGA:  MK Tolak Permohonan Pengujian Materiil Masa Jabatan Presiden

Lebih jauh, surat tersebut menyentuh isu sensitif terkait pengaruh Israel terhadap kebijakan luar negeri AS. Dengan menggeser konflik menjadi isu moral global—terutama terkait Palestina—Iran berupaya menarik simpati dari komunitas internasional yang lebih luas.

Transformasi Konflik Tiga Dimensi Analisis Sony menyimpulkan bahwa konflik modern saat ini telah bertransformasi ke dalam tiga dimensi utama:

  1. Militer: Serangan fisik dan pertahanan wilayah.

  2. Ekonomi: Sanksi, energi, dan stabilitas pasar global.

  3. Persepsi: Opini publik, media, dan legitimasi moral.

BACA JUGA:  Satu-satunya di Indonesia! Bali Jadi Pilot Project Nasional Digitalisasi Bansos dan Kartu Kesejahteraan

“Seringkali, dimensi ketiga justru paling menentukan arah jangka panjang. Siapa yang menguasai narasi, dialah yang berpotensi mengendalikan arah opini global,” tambah Sony.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran penting untuk lebih cerdas membaca arus informasi di tengah perang informasi yang kini berlangsung masif di layar ponsel dan media sosial. Geopolitik masa depan, menurut Sony, kini sedang dipertaruhkan dalam cara dunia memahami realitas.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: