Refleksi Hardiknas: Menghapus Stigma ‘Polisi Sekolah’, Guru BK SMK N 1 Abang Dorong Kemerdekaan Batin Siswa

 Refleksi Hardiknas: Menghapus Stigma ‘Polisi Sekolah’, Guru BK SMK N 1 Abang Dorong Kemerdekaan Batin Siswa

Foto: I Nyoman Krisnayana Tri Antara, S.Pd, seorang Guru Bimbingan Konseling (BK) SMK N 1 Abang Karangasem

KARANGASEM, Letternews.net – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum krusial bagi tenaga pendidik untuk merefleksikan kembali ajaran Ki Hajar Dewantara. Di SMK N 1 Abang, I Nyoman Krisnayana Tri Antara, S.Pd, seorang Guru Bimbingan Konseling (BK) dengan pengalaman luas, menekankan bahwa tugas Guru BK kini melampaui sekadar menangani siswa bermasalah.

Sebagai mantan Guru SM3T Kemdikbud Angkatan V, Krisnayana melihat bahwa esensi pendidikan adalah “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak”. Dalam konteks modern, Guru BK hadir sebagai garda terdepan dalam memerdekakan batin siswa.

BACA JUGA:  Transformasi Digital Pramuka Bali: Cok Ace Dorong Standarisasi Mutu Pelatih Lewat E-Learning

Menghapus Stigma, Membangun Kepercayaan

Lama dikenal sebagai “Polisi Sekolah” yang menakutkan, Krisnayana kini membawa pendekatan baru yang lebih empatik dan preventif. Menurutnya, layanan BK harus dipahami sebagai dukungan, bukan ancaman.

“Kita perlu membangun komunikasi terbuka. Guru BK harus menjadi figur yang dipercaya, tempat siswa mengenali emosi dan potensinya tanpa rasa takut dihakimi,” ujar sosok yang juga pernah bertugas di SMA N 1 Blahbatuh ini.

BACA JUGA:  160 Orang Penyandang Disabilitas dan Warga Tidak Mampu Kelurahan Sesetan Terima "Hadiah"

Strategi Melawan Perundungan di Sekolah

Menghadapi tantangan kompleksitas perilaku siswa, Krisnayana memaparkan empat langkah kolaboratif untuk menciptakan sekolah yang aman:

  1. Budaya Aman Kolektif: Edukasi anti-perundungan yang melibatkan seluruh warga sekolah dan orang tua.

  2. Kanal Pelaporan Rahasia: Menyediakan tempat bercerita yang aman dan menjaga privasi siswa.

  3. Pemberdayaan Siswa (Upstander): Mendorong siswa berani membela korban, bukan sekadar diam.

  4. Keterampilan Sosial-Emosional: Melatih kecerdasan emosi melalui layanan bimbingan di sekolah.

BACA JUGA:  Hardiknas 2026: Putu Wanda Parahita, Guru Muda SMK Farmasi Saraswati 3 Denpasar yang Menjadikan Empati sebagai Jantung Pendidikan

Mencari ‘Ikigai’ di Tengah Arus Media Sosial

Di era digital, Krisnayana mengingatkan siswa untuk tidak terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak sehat akibat konten media sosial yang tidak realistis. Ia menekankan pentingnya Bernalar Kritis (Critical Thinking) agar siswa tidak menelan mentah-mentah informasi di dunia maya.

Selain itu, ia membantu siswa menemukan Ikigai (alasan untuk bangun di pagi hari) melalui pemetaan minat, eksplorasi peluang karir yang realistis, serta pendampingan keputusan.

“Untuk seluruh siswa di Bali, kamu tidak harus selalu sempurna. Cukup menjadi dirimu yang terus belajar. Jangan ragu mencari bantuan saat lelah, karena kamu tidak sendiri,” pesan Krisnayana menutup percakapan.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: