Pimpin YKI Denpasar 2026-2031, Ny. Suwandewi Eddy Mulya Siap Perangi Kanker Lewat Sinergi Global
Refleksi Hardiknas: Menghapus Stigma ‘Polisi Sekolah’, Guru BK SMK N 1 Abang Dorong Kemerdekaan Batin Siswa
Foto: I Nyoman Krisnayana Tri Antara, S.Pd, seorang Guru Bimbingan Konseling (BK) SMK N 1 Abang Karangasem

KARANGASEM, Letternews.net – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum krusial bagi tenaga pendidik untuk merefleksikan kembali ajaran Ki Hajar Dewantara. Di SMK N 1 Abang, I Nyoman Krisnayana Tri Antara, S.Pd, seorang Guru Bimbingan Konseling (BK) dengan pengalaman luas, menekankan bahwa tugas Guru BK kini melampaui sekadar menangani siswa bermasalah.
Sebagai mantan Guru SM3T Kemdikbud Angkatan V, Krisnayana melihat bahwa esensi pendidikan adalah “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak”. Dalam konteks modern, Guru BK hadir sebagai garda terdepan dalam memerdekakan batin siswa.
Menghapus Stigma, Membangun Kepercayaan
Lama dikenal sebagai “Polisi Sekolah” yang menakutkan, Krisnayana kini membawa pendekatan baru yang lebih empatik dan preventif. Menurutnya, layanan BK harus dipahami sebagai dukungan, bukan ancaman.
“Kita perlu membangun komunikasi terbuka. Guru BK harus menjadi figur yang dipercaya, tempat siswa mengenali emosi dan potensinya tanpa rasa takut dihakimi,” ujar sosok yang juga pernah bertugas di SMA N 1 Blahbatuh ini.
Strategi Melawan Perundungan di Sekolah
Menghadapi tantangan kompleksitas perilaku siswa, Krisnayana memaparkan empat langkah kolaboratif untuk menciptakan sekolah yang aman:
-
Budaya Aman Kolektif: Edukasi anti-perundungan yang melibatkan seluruh warga sekolah dan orang tua.
-
Kanal Pelaporan Rahasia: Menyediakan tempat bercerita yang aman dan menjaga privasi siswa.
-
Pemberdayaan Siswa (Upstander): Mendorong siswa berani membela korban, bukan sekadar diam.
-
Keterampilan Sosial-Emosional: Melatih kecerdasan emosi melalui layanan bimbingan di sekolah.
Mencari ‘Ikigai’ di Tengah Arus Media Sosial
Di era digital, Krisnayana mengingatkan siswa untuk tidak terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak sehat akibat konten media sosial yang tidak realistis. Ia menekankan pentingnya Bernalar Kritis (Critical Thinking) agar siswa tidak menelan mentah-mentah informasi di dunia maya.
Selain itu, ia membantu siswa menemukan Ikigai (alasan untuk bangun di pagi hari) melalui pemetaan minat, eksplorasi peluang karir yang realistis, serta pendampingan keputusan.
“Untuk seluruh siswa di Bali, kamu tidak harus selalu sempurna. Cukup menjadi dirimu yang terus belajar. Jangan ragu mencari bantuan saat lelah, karena kamu tidak sendiri,” pesan Krisnayana menutup percakapan.
Editor: Rudi.







