Membasuh Sunyi dengan Warna: Sentuhan Puitis Putri Suastini untuk Seniman Difabel Bali
Foto: Tokoh perempuan Bali, Ni Putu Putri Suastini dengan Seniman Difabel.

DENPASAR, Letternews.net – Sebuah torehan rasa yang mendalam lahir dari sudut Jayasabha pada Mei 2026. Sosok tokoh perempuan Bali, Ni Putu Putri Suastini, meluapkan kekaguman sekaligus komitmen nyatanya terhadap perjuangan para seniman difabel di Pulau Dewata melalui sebuah karya sastra puitis yang menyentuh hati berjudul “Membasuh Sunyi dengan Warna”.
Puisi tersebut menjadi refleksi atas perjuangan putra-putra terbaik Bali yang, meski memiliki keterbatasan fisik dan ruang gerak, tetap mampu melahirkan karya seni lukis yang luar biasa serta mengguncang dunia.
Meluruhkan Keterbatasan Raga Lewat Gemuruh Jiwa di Atas Kanvas
Melalui bait-bait kalimat yang emosional, Putri Suastini menggambarkan bagaimana keterbatasan fisik—yang disimbolkan lewat kursi roda dan ruang sempit—sama sekali tidak mampu mengurung keliaran imajinasi para seniman berkebutuhan khusus.
Goresan kuas menari di atas kanvas dipandang sebagai saluran berekspresi yang bebas lepas, tanpa sedikit pun menanggalkan akar etika dan identitas kebudayaan Bali.
“Dadaku ikut bergetar dalam trenyuh menderas. Kursi roda yang membatasi langkahmu, tak mampu mengurung imajinasimu! Ada gemuruh warna dalam lukisan-lukisanmu,” tulis Ni Putu Putri Suastini dalam penggalan puisinya di Jayasabha.
Karya puitis ini menegaskan pandangannya bahwa para pelukis difabel Bali bukanlah sosok yang harus dikasihani di sudut sepi. Sebaliknya, mereka adalah entitas kreatif tangguh yang telah meluruhkan keterbatasan raga melalui pembuktian karya yang melejit di kancah nasional maupun global.
Komitmen Membuka Pintu Kesempatan Lebih Luas Bagi Seniman Inklusi
Bukan sekadar ekspresi seni, esai puitis dari Putri Suastini ini membawa pesan taktis mengenai inklusivitas. Ia menegaskan pentingnya keberpihakan publik dalam membentangkan karpet merah dan membuka pintu kesempatan yang lebih luas bagi para seniman difabel agar terus berkarya tanpa batas.
Putri Suastini berharap, karya-karya orisinal yang lahir dari ketulusan rasa ini dapat terus mengudara melintasi batas geografis Bali, sekaligus menjadi mercusuar inspirasi yang diwartakan ke seluruh pelosok negeri dari generasi ke generasi.
Editor: Rudi.









