Kembali Pimpin Kwarcab Pramuka Denpasar, Arya Wibawa Fokus pada Karakter, Budaya, dan Lingkungan
Kisah Nanang Khosim: Sopir Ambulans Asal Jember yang Menjadi “Malaikat” bagi Perantau di Bali
Foto: PENGABDIAN TANPA BATAS: Nanang Khosim, Ketua Divisi Sosial FKPJ Bali, saat berada di depan mobil ambulans yang kerap ia gunakan untuk membantu warga dalam kesusahan. Dedikasinya sebagai relawan pengantar jenazah telah membantu ratusan perantau di Bali.

DENPASAR, Letternews.net – Di balik kemudi sebuah mobil ambulans yang kerap membelah jalanan Bali menuju Jawa Timur, ada sosok pria tangguh bernama Nanang Khosim. Pria asal Jember ini telah lama merantau di Pulau Dewata, namun hatinya tak pernah jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.
Sebagai Ketua Divisi Sosial Forum Komunikasi Paguyuban Jawa Timur (FKPJ) Bali, Nanang telah menjadi sandaran bagi banyak orang saat mereka berada di titik terendah: kehilangan anggota keluarga di perantauan.
“Saya membantu tidak pandang bulu. Siapapun yang membutuhkan, saya akan siap,” ujar Nanang dengan nada rendah hati. Bagi Nanang, penderitaan seseorang tidak mengenal suku atau golongan. Terutama bagi warga rantau yang mengalami kesusahan di Bali, Nanang selalu menaruh atensi penuh.
Menjadi sopir ambulans jenazah bukanlah pekerjaan mudah. Nanang mengaku telah melewati banyak suka dan duka. Mulai dari menembus gelapnya malam, menghadapi cuaca ekstrem di pelabuhan, hingga menyaksikan kesedihan mendalam dari keluarga yang ia antar. Namun, rasa lelah itu hilang setiap kali ia berhasil mengantarkan jenazah hingga ke liang lahat dengan selamat di kampung halaman. Ujarnya. Jumat, (17/4/2026).
Dedikasi Nanang di FKPJ Bali menjadikannya sosok relawan yang tak kenal lelah. Ia tidak hanya membantu warga asal Jawa Timur, tetapi juga masyarakat luas yang membutuhkan bantuan darurat. Perjalanan jauh lintas provinsi bukan lagi hal baru baginya, demi sebuah misi: membantu warga yang sedang dalam kesusahan.
Kisah Nanang Khosim adalah pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk pariwisata Bali, masih ada jiwa-jiwa mulia yang memilih mengabdikan hidupnya untuk membantu sesama perantau, memastikan mereka tak sendirian saat duka melanda.
Editor: Rudi.







