Kembali Pimpin Kwarcab Pramuka Denpasar, Arya Wibawa Fokus pada Karakter, Budaya, dan Lingkungan
Capai 70 Persen, Menteri LH Puji Budaya Pilah Sampah Masyarakat Bali di TPST Kesiman Kertalangu
Foto: TINJAU TPST: Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, saat berdialog mengenai sistem pemilahan sampah di TPST Kesiman Kertalangu, Denpasar, Jumat (17/4). Beliau menekankan pentingnya pemilahan sampah dari hulu guna mendukung efisiensi teknologi PSEL di hilir.

DENPASAR, Letternews.net – Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, memberikan apresiasi tinggi terhadap perubahan drastis budaya masyarakat Bali dalam mengelola limbah. Saat meninjau TPST Kesiman Kertalangu, Jumat (17/4), Menteri Hanif mengungkapkan bahwa hampir 70 persen masyarakat di wilayah Denpasar dan Badung kini telah disiplin memilah sampah dari sumbernya.
“Ada perubahan mindset yang luar biasa. Saat ini pemilahan sudah mencapai 65 persen bahkan mendekati 70 persen. Langkah ini tidak gampang dan merupakan hasil kerja keras seluruh komponen, mulai dari Pemerintah Daerah hingga Desa Adat,” jelas Menteri Hanif kepada awak media.
Melihat tingginya capaian tersebut, Menteri Hanif menyarankan agar Pemerintah Provinsi Bali mulai menerapkan tindakan tegas berupa Tindak Pidana Ringan (Tipiring) bagi masyarakat yang masih enggan memilah sampah atau membuang sampah sembarangan. Menurutnya, hal ini penting untuk melindungi keadilan bagi warga yang sudah disiplin.
Kunci Efisiensi PSEL Lebih lanjut, Menteri LH menekankan bahwa budaya memilah sampah tetap menjadi kewajiban meskipun ke depannya Bali akan memiliki fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Ia menjelaskan bahwa teknologi Waste to Energy membutuhkan input sampah berkualitas untuk menjaga stabilitas nilai kalor dan kapasitas mesin.
“Sampah yang terpilah (organik, anorganik, dan residu) memiliki kandungan air yang lebih rendah. Kondisi ini membuat proses pembakaran di PSEL jauh lebih efisien dan menekan potensi emisi berbahaya,” tambahnya.
Sebaliknya, sampah campuran yang masuk ke sistem akan menurunkan kualitas pembakaran dan meningkatkan beban operasional. Implikasi paling signifikan adalah pada aspek pembiayaan; sampah yang terpilah dengan baik dapat menekan kebutuhan subsidi maupun tipping fee yang bersumber dari APBN/APBD.
Dengan penguatan komitmen dari hulu hingga hilir, Bali diharapkan menjadi barometer nasional dalam pengelolaan sampah yang efisien, mandiri, dan berwawasan lingkungan.
Editor: Rudi.







