
JAKARTA, Letternews.net – Perkembangan pesat teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang sejatinya diciptakan untuk mempermudah hidup manusia kini melahirkan paradoks besar. Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, menyoroti fenomena pergeseran peran manusia yang secara perlahan tidak lagi bertindak sebagai subjek pemikir yang independen, melainkan berbalik dikendalikan oleh sistem algoritma digital hingga memunculkan figur baru yang disebut sebagai Algo Sapiens.
Istilah Algo Sapiens menggambarkan kondisi manusia modern yang meski tetap memiliki tubuh biologis dan emosi, metode serta kebiasaan berpikirnya telah terstruktur dan didikte oleh sistem algoritmik. Tanpa disadari, pilihan informasi, tontonan, belanjaan, hingga keyakinan akan berita tidak lagi lahir dari kehendak bebas (free will), melainkan dari prediksi serta rekomendasi linimasa media sosial dan mesin pencari.
“Manusia menciptakan kecerdasan buatan untuk membantu kinerja otak dan pikiran, tetapi lama-lama kecerdasan buatan itu yang menjadi sandaran menggantikan kinerja otak dan pikiran kita. Di titik inilah muncul figur baru yang disebut Algo Sapiens, menggeser posisi Homo Sapiens,” papar Komaruddin Hidayat.
Mengutip pandangan pakar internasional Shoshana Zuboff dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism (2018), Komaruddin menjelaskan bahwa aktivitas digital sehari-hari manusia diekstraksi menjadi data perilaku (behavioral data). Melalui pola surveillance (pengawasan) → prediction (prediksi) → intervention (intervensi) → behavioral modification (modifikasi perilaku), algoritma tidak sekadar membaca apa yang disukai manusia, tetapi secara bertahap membentuk dan mengarahkan perilaku mereka demi kepentingan ekonomi pasar prediksi (behavioral futures markets).
Di sisi lain, pemikiran Franklin Foer dalam World Without Mind (2017) dan filosof Han Byung-chul (The Anxious Society) makin mempertegas bahaya laten ini. Algoritma bekerja bagaikan “penjara tanpa jeruji”—ia mengatur lingkungan pilihan tanpa perlu mengeluarkan perintah paksa, melainkan lewat bujuk rayu rekomendasi yang dipersonalisasi. Dampak lanjutannya adalah keterasingan, meningkatnya rasa cemas, tumpulnya daya ingat serta analisis, hingga tergerusnya esensi kemanusiaan itu sendiri akibat hilangnya ruang kontemplasi dan kemampuan belajar dari kesalahan.
Komaruddin mengingatkan bahwa secanggih apa pun kecerdasan buatan, mesin hanya bekerja dari pola masa lalu dan tidak memiliki kebijaksanaan (wisdom), empati, serta kesadaran moral atas pilihan hidup. Bila proses berpikir dan pencarian makna sepenuhnya didelegasikan kepada algoritma, yang hilang bukan sekadar privasi, melainkan esensi dasar kemanusiaan.