
DENPASAR, Letternews.net – Sektor pertanian dan perikanan merupakan tulang punggung perekonomian daerah, terutama dalam menopang kesejahteraan masyarakat pedesaan. Kendati demikian, pengelolaan kedua sektor ini masih kerap dihadapkan pada berbagai tantangan klasik, seperti rendahnya produktivitas, terbatasnya akses pasar, tinggi biaya operasional pakan dan pupuk kimia, serta kurangnya variasi diversifikasi usaha.
Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar menghadirkan inovasi terapan melalui pengembangan model Sistem Pertanian Terintegrasi berbasis Budidaya Cacing Tanah.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Luh Putu Yuni Widyastuti, S.P., M.Si., dari Prodi Agroteknologi FPB Unmas Denpasar, menjelaskan bahwa penerapan sistem pertanian terintegrasi ini bertujuan memaksimalkan hasil seluruh komponen usaha tani secara stabil, meremajakan produktivitas lahan, serta mencapai keseimbangan agroekologis yang ramah lingkungan.
“Pendekatan ini menciptakan hubungan yang saling mendukung antara pertanian, budidaya cacing tanah, dan perikanan. Limbah organik pertanian dimanfaatkan sebagai media pakan cacing, hasil pupuk vermikompos dikembalikan ke lahan pertanian, sementara biomassa cacing kaya protein dimanfaatkan sebagai pakan ikan alternatif. Dengan demikian, limbah dari satu kegiatan otomatis menjadi input bernilai bagi kegiatan lainnya,” ungkap Luh Putu Yuni Widyastuti di Denpasar, Senin (26/10/2026).

Lebih lanjut dipaparkan, model integrasi ini menggunakan jenis cacing tanah African Night Crawler (ANC) atau Eudrilus eugeniae. Cacing jenis ini terbukti sangat efektif mengonversi berbagai limbah lignoselulosa seperti sisa sayuran, jerami, dan gulma menjadi pupuk vermikompos berkualitas tinggi yang kaya unsur hara dengan rasio C/N yang seimbang untuk kesuburan tanah.
Dalam komponen perikanan, keterkaitan sistem ini membentangkan alur siklus produksi yang tertutup (closed-loop system). Alurnya terstruktur sistematis: Limbah Pertanian → Media/Pakan Cacing ANC → Cacing ANC → Vermikompos & Biomassa Cacing → Tanaman & Ikan → Limbah Organik → Kembali ke Pengolahan.
Melalui konsep ekonomi sirkular ini, petani dan pembudidaya dapat menekan penggunaan bahan kimia sintetis, mengurangi ketergantungan pakan serta pupuk pabrikan dari luar, dan menekan biaya produksi secara signifikan. Di saat yang sama, masyarakat dapat memanen beberapa produk bernilai ekonomis sekaligus, mulai dari hasil panen tanaman sehat, pupuk organik vermikompos, biomassa cacing, hingga ikan segar.
Inovasi terapan dari akademisi Unmas Denpasar ini diharapkan dapat menjadi rujukan model usaha tani berkelanjutan bagi krama desa di Bali dan Indonesia, yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan hidup.