Melejit Berkat KUR BRI, Gus Adi Sukses Kembangkan Jasa Towing Bali Hingga Tembus Pasar Papua
Gelar Agung Pacalang Bali 2026: Garda Terdepan Penjaga Toleransi Nyepi dan Malam Takbiran
Foto: Gubernur Wayan Koster pimpin Gelar Agung Pacalang Bali 2026 di Renon. Fokus pengamanan toleransi antara Nyepi Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 H.

DENPASAR, Letternews.net – Ribuan pecalang dari seluruh desa adat di Bali memadati Lapangan Niti Mandala Renon dalam gelaran prestisius Gelar Agung Pacalang Bali Tahun 2026, Sabtu (7/3/2026). Gubernur Bali, Wayan Koster, bertindak langsung sebagai Manggala Utama (Inspektur Upacara) untuk memantapkan kesiapsiagaan pecalang menjaga kesucian Pulau Dewata.
Mengusung tema “Sarana Nincapang Kasukretan Jagat Bali Niskala-Sakala”, kegiatan ini menjadi momentum krusial mengingat tantangan besar di tahun 2026: pelaksanaan Hari Suci Nyepi Saka 1948 yang berdekatan dengan malam takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah.
Pecalang Sebagai Garda Terdepan Bali Era Baru
Dalam amanatnya, Gubernur Koster menegaskan bahwa pecalang adalah pilar vital dalam visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”. Penguatan pecalang bukan sekadar menjaga ketertiban, melainkan benteng pertahanan budaya dan identitas Bali.
“Pembangunan Bali diarahkan untuk menjaga keseimbangan alam, manusia, dan kebudayaan. Pecalang memiliki peran strategis dalam sistem pengamanan terpadu berbasis desa adat atau Sipandu Beradat yang terintegrasi dengan TNI dan Polri,” ujar Koster.
Gubernur juga mendorong pecalang untuk mulai mengadopsi teknologi digital dalam pemantauan keamanan secara real-time, guna merespons keadaan darurat dengan lebih profesional.
Ujian Toleransi: Nyepi dan Idul Fitri 2026
Tahun ini, koordinasi pecalang diuji dengan berdekatannya dua hari besar keagamaan. Gubernur Koster meminta seluruh pecalang aktif menjalin komunikasi lintas tokoh agama agar pelaksanaan Nyepi dan Idul Fitri berjalan harmonis.
“Momentum ini harus memperkuat tekad pecalang dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Bali. Kita tunjukkan bahwa Bali adalah contoh toleransi terbaik,” tegasnya.
Menghalau Ancaman Global dan Sosial
Selain pengamanan hari raya, Koster menyoroti tantangan kontemporer seperti alih fungsi lahan, krisis sampah, narkotika, hingga masuknya paham radikalisme yang dapat merusak tatanan adat. Pecalang diharapkan menjadi filter pertama di tingkat desa untuk memproteksi krama Bali.
Upacara ini turut dihadiri oleh Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto, Kapolda Bali Irjen Pol. Daniel Adityajaya, Ketua MDA Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, serta perwakilan konsulat negara sahabat.
Usai upacara, Gubernur Koster melakukan inspeksi pasukan untuk memastikan soliditas dan semangat para penjaga adat ini dalam menyongsong tugas besar di akhir bulan Maret mendatang.
Editor: Rudi.







