Bali Darurat Sampah! Tokoh Pariwisata Ketut Darmayasa Tawarkan Solusi Konkret “4M” dan “BESTIE”
Foto:Ketut Darmayasa (Ketua IFBEC) peringati Hari Arak Bali 2026 di Grand Istana Rama. Simak visinya menjadikan Arak Bali spirit ke-7 dunia lewat food pairing Timbungan.

DENPASAR, Letternews.net — Isu sampah di Bali telah mencapai titik nadir yang mengancam reputasi pariwisata dunia. Menanggapi kondisi ini, praktisi pariwisata sekaligus tokoh masyarakat Bali, Ketut Darmayasa, S.IP, MM, CHT, memberikan pernyataan keras terkait kondisi “Darurat Sampah” dan krisis kepedulian lingkungan yang tengah melanda Pulau Dewata.
Menurut Darmayasa, penanganan sampah di Bali tidak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara konvensional yang bersifat sporadis. Ia menawarkan peta jalan strategis melalui formula 4M dan integrasi BESTIE untuk menyelamatkan wajah pariwisata Bali.
Rumus 4M: Fondasi Tata Kelola Limbah
Darmayasa menekankan bahwa penyelesaian masalah sampah harus memiliki fondasi yang kuat secara manajerial. Formula 4M yang ia tawarkan meliputi:
-
Money (Anggaran): Dukungan pendanaan yang kuat dan tepat sasaran.
-
Machinery (Peralatan): Penyediaan teknologi dan alat pengolahan yang mumpuni.
-
Mechanism (Tata Kelola): Sistem operasional yang jelas dari hulu ke hilir.
-
Market (Pasar): Menciptakan ekosistem ekonomi sirkular sehingga sampah yang diolah memiliki nilai jual.
Integrasi “BESTIE”: Kolaborasi Berbasis Budaya dan Teknologi
Selain manajemen, Darmayasa mengusulkan konsep BESTIE sebagai bentuk integrasi lintas sektor:
-
Bottom-up Cultural Value: Mengangkat nilai budaya lokal dalam menjaga kebersihan lingkungan.
-
Environmental Education: Pendidikan lingkungan yang masif sejak dini.
-
Technological Integration: Penggunaan teknologi ramah lingkungan yang inovatif.
-
Institutionalization: Peran aktif Pentahelix (Pemerintah, Pengusaha, Akademisi, Komunitas, dan Media).
-
Elimination of Waste: Fokus utama pada pengurangan sampah langsung dari sumbernya (hulu).
Edukasi “Cara Membuang” Sebelum “Memilah”
Satu hal unik yang disoroti Darmayasa adalah perilaku fundamental masyarakat. Ia menilai banyak pihak terlalu fokus pada wacana pemilahan sampah, namun mengabaikan etika dasar dalam membuang sampah.
“Mari kita belajar ‘Cara Membuang Sampah’ yang benar sebelum belajar memilah. Bagaimana mau memilah kalau cara membuangnya saja masih sembarangan? Kesadaran mendasar ini yang harus kita bangun kembali,” tegas Darmayasa, Kamis (14/5/2026).
Pernyataan ini menjadi pengingat bagi pemangku kebijakan agar tidak hanya terjebak pada proyek infrastruktur hilir seperti TPA, tetapi mulai memperkuat pendanaan dan edukasi intensif di tingkat desa dan individu.
Editor: Rudi.









