
DENPASAR, Letternews.net – Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Bali mencatatkan inflasi sebesar 0,70% (mtm) pada Februari 2026. Angka ini membalikkan kondisi bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar -0,34% (mtm). Secara tahunan, inflasi Bali merangkak naik ke posisi 3,89% (yoy) dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 2,58% (yoy).
Kenaikan inflasi bulanan ini utamanya didorong oleh peningkatan permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) sesuai pola historis, serta tren kenaikan harga emas dunia yang terus berlanjut. Sementara itu, lonjakan inflasi tahunan lebih disebabkan oleh faktor base effect diskon tarif listrik tahun 2025 yang kini sudah tidak berlaku.
[irp]
Secara spasial, seluruh Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi. Kabupaten Badung menempati posisi tertinggi dengan inflasi bulanan sebesar 1,04% (mtm). Disusul oleh Singaraja (0,77% mtm), Kota Denpasar (0,57% mtm), dan Kabupaten Tabanan (0,48% mtm).
Komoditas utama yang menjadi penyumbang inflasi kali ini adalah cabai rawit, daging ayam ras, emas perhiasan, dan cabai merah. Di sisi lain, laju inflasi berhasil tertahan oleh penurunan harga bensin, wortel, daging babi, dan bawang putih.
[irp]
Menghadapi triwulan I 2026, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memberikan atensi khusus pada risiko cuaca ekstrem. Puncak musim hujan diprediksi dapat mengganggu produksi pertanian, menghambat distribusi, serta meningkatkan risiko penyakit ternak dan gelombang tinggi bagi nelayan.
“Pengendalian inflasi oleh TPID perlu diperkuat, terutama untuk menjaga stabilitas harga komoditas pangan seperti beras, hortikultura, dan daging ayam ras guna menghadapi rangkaian HBKN Nyepi dan Idul Fitri,” tulis rilis tersebut.
[irp]
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali menegaskan akan memperkuat sinergi melalui tiga pilar utama: menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, serta memperkuat regulasi.
Langkah konkret yang akan dilakukan meliputi:
Intensifikasi Operasi Pasar: Menggunakan kaidah 3T (Tepat waktu, Tepat lokasi, Tepat sasaran).
Kerja Sama Antar Daerah (KAD): Memperkuat jalur logistik baik sesama wilayah Bali maupun luar Bali.
Ekosistem Pangan Inklusif: Melibatkan BUMDes, Perumda Pangan, dan Koperasi dalam rantai pasok hulu-hilir.
Dengan penguatan sinergi ini, inflasi tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam sasaran 2,5% ± 1%.
Editor: Rudi.