
GIANYAR, Letternews.net – Peningkatan kunjungan wisatawan yang diprediksi menembus angka 6 juta jiwa menjadi tantangan besar bagi ketahanan budaya dan ekonomi Bali. Merespons hal tersebut, Desa Adat Tulikup Kaler sukses menjadi tuan rumah Seminar Desa Adat bertajuk “Turis Tembus 6 Juta, Desa Adat Menjadi Apa?” yang digelar di Kantor LPD setempat, Selasa (23/12/2025).
Bendesa Adat Tulikup Kaler, Drs. I Gusti Ngurah Wijana, M.M., M.Pd, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan Majelis Desa Adat (MDA) memilih wilayahnya sebagai pusat diskusi strategis masa depan Bali tersebut.
[irp]
Dalam arahannya, I Gusti Ngurah Wijana menegaskan bahwa desa adat bukan sekadar lembaga tradisional, melainkan tulang punggung utama yang menjaga napas budaya Bali di kancah internasional.
“Apa pun yang terjadi di Bali, desa adat tetap menjadi satu kesatuan yang melestarikan budaya bangsa. Kreativitas dan identitas Bali tidak bisa dilepaskan dari peran desa adat,” tegasnya. Namun, ia mengingatkan agar desa adat tidak hanya menjadi penonton di tengah masifnya industri pariwisata.
[irp]
Salah satu poin krusial yang didukung penuh oleh Bendesa Tulikup Kaler adalah pembentukan Badan Usaha Milik Desa Adat (BUMDA) Bersama. Menurutnya, skema ini menjadi solusi bagi desa adat yang belum mampu membentuk unit usaha secara mandiri.
“Saya yakin Perda tentang BUMDA akan menjadi pemantik bagi desa adat. Jika belum mampu mandiri, pola usaha bersama di tingkat kecamatan bisa menjadi solusi. Seluruh desa adat berinvestasi bersama, dan hasilnya dinikmati secara adil,” ujar Ngurah Wijana.
Model kolaborasi ekonomi ini diyakini akan memberikan posisi tawar dan kekuatan finansial yang lebih besar bagi desa adat dalam mengelola potensi lokal mereka.
[irp]
Meski mengapresiasi kehadiran narasumber kompeten, Ngurah Wijana memberikan catatan agar seminar serupa ke depan melibatkan audiens yang lebih masif. Saat ini, kegiatan baru melibatkan 42 desa adat di Kecamatan Gianyar.
“Kabupaten Gianyar memiliki 273 desa adat. Jika Majelis Madya mengoordinasikan konsep yang sama di seluruh kecamatan, tentu dampaknya akan jauh lebih besar untuk ketahanan Bali secara menyeluruh,” pungkas akademisi yang juga tokoh adat tersebut.
Editor: Rudi.