
DENPASAR, Letternews.net – Dampak kelangkaan dan antrean panjang Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang melumpuhkan mobilitas warga di berbagai wilayah Bali, khususnya Denpasar dan Badung, memicu respons tegas dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VIII.
Guna menjaga kelancaran roda pelayanan publik serta kegiatan akademik di perguruan tinggi, LLDikti Wilayah VIII secara resmi memberlakukan kebijakan Work From Home (WFH) bagi seluruh pegawainya mulai Rabu (14/10/2026).
Meskipun pihak penyedia BBM mengklaim ketersediaan stok dalam kondisi aman, pantauan langsung di lapangan menunjukkan pemandangan sebaliknya. Antrean kendaraan bermotor masih mengular hingga ratusan meter di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Denpasar dan Badung, bahkan beberapa di antaranya tutup karena kehabisan pasokan.
Kepala LLDikti Wilayah VIII (yang membawahi wilayah Bali dan Nusa Tenggara Barat), Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU., ASEAN.Eng., membenarkan penetapan kebijakan WFH internal tersebut saat dikonfirmasi oleh wartawan Letternews.net.
“Kantor LLDikti Wilayah VIII saat ini resmi memberlakukan WFH sampai kondisi distribusi BBM kembali normal,” ujar Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi saat dihubungi wartawan Letternews.net, Rabu (14/10/2026).
Tidak hanya menerapkan WFH di lingkungan internal kantor LLDikti Wilayah VIII, Gusti Lanang Bagus Eratodi juga mengimbau jajaran pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Bali untuk mengambil langkah adaptif serupa demi melindungi kenyamanan serta keselamatan civitas akademika.
Imbauan ini mencakup pengalihan proses perkuliahan tatap muka menjadi sistem pembelajaran dalam jaringan (daring/online) serta penyesuaian pola kerja WFH bagi para dosen dan tenaga kependidikan.
“Kami juga menghimbau kampus-kampus di Bali bisa mengambil kebijakan fleksibel dengan memberlakukan perkuliahan daring serta WFH bagi civitas akademika akibat dampak antrean BBM ini,” tegas Kepala LLDikti Wilayah VIII.
Langkah responsif dari LLDikti Wilayah VIII ini diharapkan dapat meminimalkan risiko hambatan mobilitas harian para mahasiswa dan akademisi di Bali, sekaligus mendorong efisiensi penggunaan bahan bakar selama masa pemulihan rantai pasokan BBM oleh pihak terkait.