Perbankan RI Tampil Tangguh: Kredit Tembus Rp8.659 Triliun di Tengah Gejolak Global

 Perbankan RI Tampil Tangguh: Kredit Tembus Rp8.659 Triliun di Tengah Gejolak Global

Foto: Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae

JAKARTA, Letternews.net — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan kinerja intermediasi perbankan domestik tetap menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Di tengah volatilitas pasar global dan lonjakan harga energi, industri perbankan Indonesia justru mencatatkan pertumbuhan positif dengan profil risiko yang terjaga ketat.

Berdasarkan data Maret 2026, penyaluran kredit perbankan tumbuh sebesar 9,49 persen (yoy) menjadi Rp8.659,05 triliun. Angka ini menunjukkan percepatan dibandingkan pertumbuhan pada Februari 2026 yang berada di level 9,37 persen.

BACA JUGA:  Mendikdasmen Abdul Mu’ti Puji ‘Edu Green’ Denpasar: Jadi Role Model Festival Pendidikan Nasional

Konstruksi dan Investasi Jadi Mesin Utama

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa sektor konstruksi menjadi kontributor terbesar dalam pertumbuhan kredit tahunan, yakni tumbuh pesat sebesar 46,67 persen. Diikuti oleh sektor rumah tangga dan industri pengolahan.

Dari sisi penggunaan, Kredit Investasi (KI) mendominasi dengan lonjakan pertumbuhan mencapai 20,85 persen (yoy). “Hal ini menunjukkan tingkat permodalan yang kuat dan likuiditas perbankan yang memadai untuk menyerap potensi tekanan di masa depan,” jelas Dian dalam pernyataan resminya, Rabu (6/5/2026).

BACA JUGA:  PLN Indonesia Power UBP Bali Gelar Pelepasan PLN Indonesia Power UBP Papua dan Maluku

Kabar Baik dari Sektor UMKM

Setelah sempat mengalami kontraksi, kredit UMKM menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Pada Maret 2026, kredit UMKM mencapai Rp1.498,64 triliun atau ekspansi sebesar 0,12 persen.

Pemulihan ini didorong oleh kebijakan strategis POJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan bagi UMKM. Kebijakan ini merupakan bagian dari Asta Cita Pemerintah untuk mempercepat pemerataan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

“OJK terus mendorong perbankan untuk memberikan akses kredit yang mudah, tepat, cepat, dan murah. Ke depan, pendekatan rantai pasok dan digitalisasi proses kredit akan menjadi strategi kunci bagi pelaku UMKM,” tambah Dian.

BACA JUGA:  Viral Pemukulan Karyawan JFC di Bedugul ini Tanggapan Kabid Humas

Likuiditas Melimpah, Risiko Terkendali

Masyarakat nampaknya kian percaya pada sistem perbankan. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh impresif sebesar 13,55 persen (yoy) menjadi Rp10.230,81 triliun. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross pun membaik di level 2,14 persen, lebih rendah dari bulan sebelumnya.

Dengan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 84,64 persen, perbankan nasional dipastikan masih memiliki ruang likuiditas yang sangat luas untuk membiayai proyek-proyek strategis dan kebutuhan konsumsi masyarakat ke depannya.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: