FGD Penonaktifan PBI JKN: Rai Mantra Dorong Pemutakhiran DTSEN dan Larang RS Tolak Pasien
Misteri Pantangan Madiun-Kediri: Menguak Sejarah Perlawanan Retno Dumilah hingga Mitos Tumbangnya Kekuasaan
Foto: Mengulas sejarah persaingan Madiun-Kediri sejak abad ke-16. Benarkah mitos kutukan bagi penguasa masih berlaku? Simak kaitannya dengan peristiwa terkini.

JAWA TIMUR, Letternews.net – Di balik modernisasi Jawa Timur, sebuah mitos lama tentang pantangan orang Madiun berkunjung ke Kediri—begitu pula sebaliknya—kembali hangat diperbincangkan. Mitos ini bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan sebuah memori kolektif yang berakar pada persaingan kekuasaan Jawa abad ke-16 yang penuh darah dan air mata.
Masyarakat tradisional percaya bahwa ada benturan “energi” yang tak kasatmata antara kedua wilayah ini, yang jika dilanggar, dipercaya dapat mendatangkan petaka bagi mereka yang memegang kekuasaan.
Jejak Sejarah: Retno Dumilah dan Siasat Mataram
Sejarah mencatat, pada tahun 1590, Mataram Islam melakukan penaklukan besar-besaran terhadap Madiun. Tokoh sentral dalam peristiwa ini adalah Retno Dumilah, putri Adipati Madiun yang menjadi simbol perlawanan harga diri wilayah timur.
Madiun akhirnya tunduk bukan lewat perang terbuka yang gagah berani, melainkan melalui siasat politik yang pelik. Sejak saat itu, tumbuh kepercayaan bahwa wilayah Madiun dan Kediri memiliki akar bangsawan dan sejarah politik yang saling bertolak belakang namun sama-sama kuat, menciptakan sekat imajiner yang bertahan berabad-abad.
Kediri: Sang “Tanah Pingit” yang Wingit
Kediri sendiri dalam berbagai babad dikenal sebagai “Tanah Pingit”. Mitos yang paling melegenda menyebutkan bahwa penguasa dari luar wilayah yang berani masuk ke jantung Kediri akan kehilangan takhtanya. Sungai Brantas diyakini sebagai batas simbolik antara wilayah aman dan petaka.
Kepercayaan ini sering kali membuat para pejabat tinggi berpikir dua kali sebelum melakukan kunjungan resmi, demi menjaga stabilitas kekuasaan mereka.
Kaitan dengan Kejadian Terkini: Kebetulan atau Pertanda?
Meskipun di era modern mitos ini mulai luntur—terbukti dengan banyaknya warga yang saling menikah dan berdagang—kepercayaan lisan ini kembali mencuat saat terjadi peristiwa besar.
Belakangan, publik di Jawa Timur mengaitkan kunjungan Wali Kota Madiun ke Kediri dengan peristiwa Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK yang menimpanya tak lama setelah kunjungan tersebut. Spekulasi bermunculan: Apakah ini sekadar kebetulan murni, ataukah masyarakat sedang membaca ulang mitos lama sebagai cermin peringatan?
Dalam budaya Jawa, sejarah dan mitos mungkin memang tidak menentukan nasib seseorang secara absolut, namun keduanya sering hadir sebagai pengingat akan etika dan kewaspadaan dalam memegang amanah kekuasaan.
Editor: Rudi.







