Restorasi Suci Pura Besakih: Langkah Besar Gubernur Koster Kembalikan Arsitektur Pakem Bali
Foto: Gubernur Bali Wayan Koster mulai restorasi Parahyangan Pura Agung Besakih senilai Rp203 Miliar untuk kembalikan keaslian arsitektur pakem Bali.

KARANGASEM, Letternews.net — Pusat spiritual umat Hindu, Pura Agung Besakih, tengah memasuki babak baru dalam sejarahnya. Gubernur Bali, Wayan Koster, resmi memulai restorasi besar-besaran kawasan Parahyangan untuk mengembalikan keagungan, keseragaman, dan nilai asli arsitektur Bali yang selama puluhan tahun mengalami ketidakteraturan.
Momentum sakral ini ditandai dengan upacara Ngeruak/Mulang Dasar dan peletakan batu pertama (groundbreaking) Tahap II Penataan Area Parahyangan di Pura Banua, Besakih, Jumat (1/5). Pelaksanaan ini bertepatan dengan Rahina Purnama, menambah kesakralan dimulainya proyek yang menyentuh jantung kosmologi Pulau Dewata.
Restorasi, Bukan Sekadar Rehabilitasi
Gubernur Koster menegaskan bahwa proyek ini memiliki filosofi yang lebih dalam dari sekadar pembangunan fisik. Fokus utamanya adalah memperbaiki 30 titik suci (pelinggih) yang selama ini memiliki material dan ornamen yang tidak seragam—mulai dari beton hingga batu padas yang tidak terawat.
“Ini bukan pembangunan baru, bukan juga rehab biasa. Ini restorasi, membangun kembali dengan tetap mempertahankan keaslian sesuai pakem arsitektur Bali asli,” tegas Gubernur Koster.
Investasi Spiritual Senilai Triliunan Rupiah
Penataan kawasan Besakih merupakan mega proyek yang dibagi menjadi beberapa tahap dengan total anggaran melampaui Rp1 triliun.
-
Tahap I: Penataan palemahan (fasilitas parkir, kios, dan fasilitas umat) senilai Rp911 miliar.
-
Tahap II: Restorasi Parahyangan yang ditargetkan tuntas pada November 2026 dengan anggaran Rp203 miliar (sharing anggaran Pemprov Bali dan Pemkab Badung).
-
Tahap III: Penataan akses jalan terintegrasi dari berbagai arah yang direncanakan mulai tahun 2027 hingga 2029.
Pesan Spiritual untuk Kontraktor
Mengingat Besakih adalah linggih stana Ida Bhatara, Gubernur Koster memberikan pesan keras kepada pelaksana proyek agar bekerja tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi mengedepankan rasa dan doa.
“Ini tempat suci, bukan proyek biasa. Saya minta seluruh kontraktor bekerja dengan kesadaran spiritual. Jangan ada kompromi terhadap kualitas,” ujarnya. Restorasi ini diharapkan menjadi warisan peradaban yang menjaga Bali agar tetap ajeg sepanjang zaman.
Editor: Rudi.







