
DENPASAR, Letternews.net – Kemerdekaan Republik Indonesia tidak lahir sekadar dari peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945, melainkan buah dari darah, keringat, dan pengorbanan rakyat di berbagai penjuru daerah. Di Bali, salah satu catatan sejarah paling heroik adalah peristiwa Serangan Umum Kota Denpasar pada 11 April 1946, saat perlawanan bersenjata rakyat berkobar menghadapi tentara NICA yang hendak merongrong kedaulatan Ibu Pertiwi.
Dalam pertempuran sengit tersebut, sosok pemuda kharismatik asal Griya Puniawati, Banjar Bengkel, Sumerta, Denpasar Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Djapa atau yang akrab disapa Kapten Djapa gugur di medan laga pada usia yang sangat muda, yakni 21 tahun, usai memimpin sektor timur menggempur Tangsi Kayumas.
Kisah kepahlawanan, latar belakang keluarga, serta tinjauan akademis mendalam mengenai kelayakannya sebagai Pahlawan Nasional diulas secara komprehensif dalam naskah pemikiran akademis karya Dr. Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, S.E., M.Si.
Berdasarkan kajian tersebut, Kapten I.B. Putu Djapa tidak hanya dipandang sebagai figur militer jebolan PETA berprestasi terbaik, tetapi juga produk dari nilai budaya luhur masyarakat Bali: dharma, satya, tat tvam asi, dan semangat jengah.
Kajian Dr. I.B. Rai Dharmawijaya Mantra menggarisbawahi bahwa pengusulan Kapten I.B. Putu Djapa sebagai Pahlawan Nasional telah memenuhi kerangka yuridis formal sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (Pasal 24 dan 25), serta Peraturan Menteri Sosial Nomor 15 Tahun 2012.
Berikut adalah poin-poin krusial kelayakan Kapten I.B. Putu Djapa sebagai Pahlawan Nasional:
Kepemimpinan Sektor Militer Sata Perang: Kapten Djapa memimpin sekitar 800 pejuang dalam Serangan Umum Kota Denpasar 11 April 1946 melawan pusat kekuatan NICA di Tangsi Kayumas.
Prinsip Pantang Menyerah: Gugur di medan pertempuran dalam usia 21 tahun tanpa pernah menyerah kepada musuh, menunjukkan intisari sejati bela negara.
Integritas Moral & Keteladanan: Menjunjung tinggi nilai disiplin, tanggung jawab, kesetiaan, dan pengorbanan yang berakar dari didikan keluarga Brahmana Griya Puniawati serta pendidikan militer PETA.
Dampak Historis Nasional: Menjadi simbol perlawanan kolosal rakyat Bali terhadap agresi militer Belanda pascakemerdekaan, yang memperlihatkan bahwa kemerdekaan diraih melalui gerakan kolektif akar rumput.
Semangat “jengah” dorongan batin untuk bangkit, menjaga kehormatan, dan menolak ketidakadilan yang melekat pada diri Kapten Djapa kini direlevansikan oleh Dr. Rai Mantra sebagai amunisi moral bagi generasi muda untuk melawan bentuk penjajahan modern seperti kemiskinan, korupsi, hoaks, dan intoleransi demi menjaga keutuhan NKRI.