
GIANYAR, Letternews.net – Tradisi akulturasi budaya dan keharmonisan lintas agama antara Konghucu dengan Hindu Bali menyatu dalam suasana hangat nan magis saat puncak piodalan di Pura Sri Sedana dan Cong Poo Kong Bio (Klenteng/Kongco) Gianyar, Sabtu (24/10/2026).
Piodalan sakral di tempat ibadah bersejarah yang berlokasi di Jalan Dipta No. 14A Gianyar tersebut jatuh bertepatan dengan Purnamaning Kalima dalam kalender Bali atau tanggal 15 bulan 9 Imlek. Tempat ibadah ini menjadi benteng kerukunan warga keturunan Tionghoa dan krama lokal Gianyar yang telah terjalin erat selama ratusan tahun.
Sejarah lisan diwariskan secara turun-temurun menyebutkan bahwa pendirian tempat suci ini berkaitan erat dengan perjalanan suci Ida Bhatara yang berstana di Pura Ulun Danu Batur menuju Pantai Masceti, Blahbatuh. Rombongan beliau sempat singgah di lokasi tersebut dan ditandai dengan fenomena hujan lokal. Lokasi pesinggahan tersebut kemudian dibangun turus lumbung yang ber-akulturasi menjadi Pura Sri Sedana dan Cong Poo Kong Bio, erat kaitannya dengan figur mitologi Ratu Subandar.
Kebersamaan tersebut terpancar jelas dari pelaksanaan upakara yang memadukan sarana persembahyangan Konghucu seperti lilin dan dupa dengan sarana banten khas piodalan Bali.
“Puncak piodalan diisi dengan persembahan tarian sakral seperti Rejang Dewa, Baris Gede, Rejang Renteng, Rejang Sari, hingga Tari Topeng Sidakarya yang dibawakan secara berkolaborasi antara Pemaksan Kongco dengan warga Lingkungan Sangging,” ungkap Ketua Pemaksan Pura Sri Sedana dan Cong Poo Kong Bio, Nyoman Aryawan.
Nyoman Aryawan membeberkan bahwa jumlah pemaksan tempat ibadah ini mencapai kurang lebih 120 Kepala Keluarga (KK) yang sebagian besar berdomisili di Kecamatan Gianyar. Kendati demikian, pemedek yang tangkil maturan berasal dari berbagai penjuru daerah.
Adapun dewa-dewi yang dipuja di punden ini meliputi Dewa Cong Poo Kong (Dewa Perdagangan), Dewa Kwan Kong (Dewa Keadilan), Dewa Tan Hu Sin Jin (Dewa Arsitek), serta Dewa Cai Sen Ya (Dewa Rezeki/Uang). Tempat ibadah ini tidak hanya menjadi milik umat Konghucu, melainkan terbuka luas bagi seluruh masyarakat yang berkeyakinan untuk bersembahyang.
Guna menyemarakkan rangkain piodalan yang berlangsung selama empat hari berturut-turut, panitia menggelar pertunjukan seni budaya saban malam. Panggung hiburan diisi pementasan Tari Manukrawa dari siswa SDN 3 Gianyar, Tari Puspanjali dari pemaksan, serta kolaborasi seni lainnya.
“Untuk menambah kemeriahan, dihadirkan atraksi belasan Barong Sai dari berbagai perkumpulan Barong Sai ternama yang datang dari Denpasar, Gianyar, hingga Klungkung,” pungkas Nyoman Aryawan.
Melalui piodalan ini, Pura Sri Sedana dan Cong Poo Kong Bio membuktikan bahwa nilai-nilai keharmonisan, toleransi, dan kebudayaan di Pulau Dewata terus lestari menyatukan perbedaan.