Melestarikan Wastra Sasak: Dedikasi Ny. Lilik Mariana Menjaga Eksistensi Tenun Pringgasela

 Melestarikan Wastra Sasak: Dedikasi Ny. Lilik Mariana Menjaga Eksistensi Tenun Pringgasela

Foto: Jelajahi keindahan Tenun Pringgasela, warisan budaya Suku Sasak yang mendunia. Simak proses pembuatan tradisional dan peran Ny. Lilik Mariana dalam melestarikan wastra Lombok Timur ini.

LOMBOK TIMUR, Letternews.net – Tenun Pringgasela bukan sekadar kain tradisional, melainkan wastra kebanggaan Suku Sasak yang menyimpan filosofi mendalam tentang siklus kehidupan manusia. Berasal dari Desa Pringgasela, Lombok Timur, kain ini menjadi simbol identitas yang diwariskan lintas generasi dengan ciri khas motif garis yang sederhana namun sarat makna.

Salah satu motif yang paling ikonik adalah “Sabok Beranak”, yang merepresentasikan perjalanan manusia dari lahir, hidup, hingga mati. Keunikan lain dari Tenun Pringgasela adalah kepatuhannya pada nilai kesakralan leluhur, di mana motifnya tidak menampilkan simbol makhluk hidup, melainkan fokus pada pola geometris dan garis yang elegan.

BACA JUGA:  KPK Periksa Komisaris Indonesian Cloud

Hingga saat ini, proses pembuatannya pun masih mempertahankan metode tradisional yang sangat ramah lingkungan. Para perajin setia menggunakan “gedogan” (Alat Tenun Bukan Mesin) serta benang kapas alami. Pewarnaannya pun murni menggunakan bahan nabati seperti daun ketapang dan daun tarum, menghasilkan warna-warna lembut yang khas dan eksklusif.

Di balik pelestarian wastra ini, muncul sosok inspiratif dari keluarga besar TNI, yakni Ny. Lilik Mariana. Anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIX Kodim 1615/Lombok Timur ini konsisten mengelola UMKM Tenun Pringgasela dengan standar kualitas tinggi.

“Untuk menghasilkan sehelai kain berkualitas, dibutuhkan waktu satu hingga tiga bulan. Prosesnya sangat detail, mulai dari pemintalan benang katun halus hingga tahap penenunan yang presisi,” ujar Ny. Lilik Mariana.

BACA JUGA:  PKB 2025 Siap Dibuka, Peed Aya Digelar di Renon dan Pembukaan di Ardha Candra Tribun Penonton Berkapasitas 2500 Orang

Istri dari Pelda Muhammad Nukman (Babinsa Koramil 05 Masbagik) ini tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga aktif melakukan digitalisasi pemasaran. Melalui akun Instagram @tenunpersitlotim, ia memperkenalkan berbagai motif seperti Pucuk Rebong yang melambangkan pertumbuhan, hingga motif Sari Menanti yang kini banyak diminati generasi muda karena coraknya yang lebih modern.

Dukungan dari Kodim 1615/Lombok Timur dan Koorcab Rem 162 PD IX/Udayana menjadi penguat bagi Ny. Lilik untuk terus mengembangkan usahanya. Tenun Pringgasela kini membuktikan bahwa kearifan lokal mampu bersaing di pasar modern sekaligus mengangkat martabat budaya Indonesia ke panggung dunia.

Tenun Pringgasela bukan hanya tentang kain; ia adalah cerita tentang ketekunan, jati diri, dan cinta terhadap tanah air yang ditenun dengan sepenuh hati.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: