LetterNews
02 November 2026
23:52 WITA
Topik Populer:
#Letternews#KPK#PLN#Bali#Korupsi#Polda Bali#Wayan Koster#Denpasar#Pemkot Denpasar#OJK
15 June 2026 06:58 WITA
Penulis: Redaksi | Editor: Redaksi | Dipublikasikan: 15 June 2026, 06:58 WITA

Kurs Rupiah Ditutup Menguat Tajam ke Rp17.860 per Dolar AS, Sentimen Domestik Redakan Cemas Pasar

Foto: Ilustrasi gambar

JAKARTA, Letternews.net – Otot mata uang Garuda menunjukkan keperkasaannya di penghujung pekan. Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat sore sukses mencatatkan penguatan signifikan sebesar 129 poin atau melonjak 0,71 persen ke level Rp17.860 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.989 per dolar AS.

Kenaikan impresif ini memperlihatkan adanya angin segar di pasar finansial dalam negeri. Sejalan dengan pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga bergerak perkasa ke level Rp17.921 per dolar AS, menguat dari hari sebelumnya yang berada di posisi Rp17.981 per dolar AS.

[irp]

Sinergi Fiskal dan Daya Tarik Aset RI Jadi Stimulus Utama

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai tren positif pergerakan rupiah ini dipicu oleh kombinasi solid dari sentimen domestik. Langkah-langkah strategis yang diambil otoritas moneter terbukti ampuh meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal nasional.

Menurut Josua, terdapat beberapa faktor internal utama yang menjadi penyelamat rupiah pekan ini:

  • Sinergi Kuat: Koordinasi yang kian solid antara Bank Indonesia dan Pemerintah.

  • Bantalan Suku Bunga: Kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) yang memberikan proteksi tebal bagi mata uang domestik.

  • Rapor Hijau APBN: Data APBN per Mei yang relatif lebih baik, di mana defisit anggaran masih terkendali, keseimbangan primer mencatatkan surplus, serta pendapatan negara tumbuh kuat.

Kebijakan pengetatan moneter ini sukses mendongkrak daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan mengerek imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN). Tingginya imbal hasil tersebut mulai memicu aliran modal asing masuk kembali (capital inflow), terutama menyasar instrumen SRBI serta SBN tenor pendek dan menengah.

[irp]

Waspada Risiko Semester Kedua dan Ketegangan Geopolitik Global

Kendati demikian, pasar dinilai masih bersikap realistis dan cenderung berhati-hati. Investor global saat ini tengah menunggu bukti nyata apakah disiplin fiskal ketat tersebut mampu dipertahankan pemerintah hingga akhir tahun. Terlebih, realisasi belanja negara biasanya akan melonjak drastis pada semester kedua, ditambah fluktuasi risiko subsidi energi yang masih membayang.

Di samping itu, Josua menambahkan bahwa laju penguatan rupiah masih tertahan oleh keperkasaan indeks dolar AS akibat tingginya tensi geopolitik global.

“Eskalasi berita dari Timur Tengah membuat dolar AS kembali diburu investor sebagai aset aman (safe-haven asset). Pelaku pasar juga terus mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) dan imbal hasil obligasi AS (US Treasury yield). Selama dolar AS masih kokoh dan harga minyak dunia bergejolak, rupiah tetap rentan meskipun BI sudah menaikkan suku bunga,” pungkas Josua.

Editor: Rudi.