
GIANYAR, Letternews.net – Kabar baik berembus bagi penataan kawasan pariwisata internasional Ubud. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Bali bersama Dinas PUPR Kabupaten Gianyar secara taktis telah menyepakati komitmen bersama untuk melakukan perbaikan total terhadap fasilitas pedestrian atau trotoar yang rusak parah (benyah latig) di kawasan tersebut pada tahun ini.
Langkah responsif ini diambil menyusul derasnya sorotan dan keluhan publik, baik dari warga lokal maupun wisatawan mancanegara. Kondisi infrastruktur penunjang pejalan kaki di pusat Ubud dinilai sempat terlihat kumuh dan membahayakan keselamatan publik, melengkapi persoalan kemacetan lalu lintas yang belum terurai.
[irp]
Kepala Dinas PUPR Provinsi Bali, Nusakti Yasa Wedha, membenarkan bahwa secara regulasi aset jalur pedestrian di kawasan Ubud berada di bawah wewenang pemerintah provinsi. Kendati demikian, demi percepatan penanganan penataan pariwisata, pihaknya telah meneken kesepakatan kolaborasi dengan Pemkab Gianyar.
Penanganan teknis di lapangan untuk tahun anggaran ini akan dibagi secara proporsional guna mengoptimalkan serapan anggaran daerah.
“Sebagian trotoar akan ditangani oleh kami (Provinsi) dan sebagian lagi oleh Kabupaten Gianyar sesuai dengan pembagian kewenangan yang disepakati pada tahun ini,” jelas Nusakti Yasa Wedha.
Untuk tahap awal eksekusi fisik tahun ini, Dinas PUPR Gianyar akan memprioritaskan perbaikan pada titik-titik paling krusial yang menjadi pusat mobilitas wisatawan. “Berdasarkan koordinasi terakhir, info penanganan fisik akan dimulai dari kawasan depan Puri Agung Ubud hingga ke jalur Campuhan,” imbuhnya.
[irp]
Kondisi jalur pejalan kaki di Ubud sebelumnya memang kerap memicu polemik di ruang digital. Tidak sedikit warga lokal dan pembuat konten kreatif yang membuat parodi menggelitik di media sosial sebagai bentuk kritik visual untuk mengetuk pintu kebijakan pemerintah agar segera turun tangan.
Dengan adanya kepastian perbaikan dari hilir ke hulu ini, kawasan Ubud diharapkan mampu mengembalikan citra estetikanya sebagai destinasi wisata budaya yang aman, ramah pejalan kaki, serta bebas dari kesan kumuh.
Editor: Rudi.