
JEMBRANA, Letternews.net — Ujung barat Pulau Dewata menjadi saksi bisu sebuah perjalanan spiritual yang agung. Sebanyak 58 Bhikkhu dari berbagai negara yang tergabung dalam misi “Indonesia Walk for Peace” resmi memulai langkah kaki mereka menyeberangi Selat Bali menuju Pulau Jawa pada Senin (11/5/2026).
Suasana khidmat menyelimuti Vihara Empu Astapaka, Gilimanuk, saat para Bhikkhu bersiap melanjutkan perjalanan sejauh 666 kilometer. Misi jalan kaki (Thudong) ini dijadwalkan menempuh waktu 22 hari dan akan berakhir pada 28 Mei mendatang.
[irp]
Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, hadir langsung memberikan penghormatan terakhir sebelum para Bhikkhu menaiki kapal feri di Pelabuhan Gilimanuk. Baginya, aksi Thudong ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan pesan mendalam bagi masyarakat modern.
“Di tengah zaman yang serba cepat, para Bhikkhu ini memilih berjalan kaki dengan kesederhanaan dan ketenangan batin. Ini pengingat bagi kita semua agar tidak hanya sibuk mengejar dunia, tapi juga menjaga hati tetap damai,” ujar Bupati Kembang penuh takzim.
Ia berharap, langkah kaki para Bhikkhu ini mampu memperkuat rajutan toleransi dan persaudaraan antarumat beragama di Indonesia.
[irp]
Ketua Panitia Koordinator Daerah Bali, PMy. Sudiarta Indrajaya, mengungkapkan bahwa momen menyeberangi laut memiliki makna filosofis yang sangat kuat. Selat Bali tidak dianggap sebagai pemisah antara Bali dan Jawa, melainkan jembatan spiritual.
“Para Bhikkhu akan membacakan mantra saat berada di tengah laut, memberkati kedua pulau agar senantiasa harmonis. Meski melewati daerah dengan tradisi berbeda, misi utamanya tetap satu: menebarkan cinta kasih kepada semua kehidupan,” jelas Sudiarta.
Sudiarta mengajak masyarakat untuk mengiringi langkah para Bhikkhu, tidak hanya dengan fisik, tetapi melalui doa-doa terbaik agar pesan kedamaian ini sampai ke seluruh penjuru negeri.
Editor: Rudi.