LetterNews
02 November 2026
20:56 WITA
Topik Populer:
#Letternews#KPK#PLN#Bali#Korupsi#Polda Bali#Wayan Koster#Denpasar#Pemkot Denpasar#OJK
04 October 2026 01:28 WITA
Penulis: Redaksi | Editor: Rudianto | Dipublikasikan: 04 October 2026, 01:28 WITA

Jejak Pinang 25.000 Tahun Lalu Ditemukan di Sulawesi Selatan, Ungkap Rahasia Manusia Purba dan Senyawa Psikoaktif

Penelitian BRIN dan Griffith University pada Gigi Manusia Purba di Maros dan Bone Buktikan Penggunaan Biji Pinang Sejak Masa Pleistosen Akhir

Riset kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University Australia yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances berhasil mengungkap rahasia besar dari fosil gigi manusia purba di Leang Bulu Bettue (Maros) dan Leang Cappa Lombo (Bone), Sulawesi Selatan. Foto: Net

SULSEL, Letternews.net – Fosil gigi manusia purba yang ditemukan di gua-gua prasejarah Sulawesi Selatan membuka petunjuk baru mengenai cara manusia purba memanfaatkan tumbuh-tumbuhan untuk bertahan hidup. Penelitian terbaru terhadap sisa rangka manusia di Leang Bulu Bettue (Maros) dan Leang Cappa Lombo (Bone) menemukan indikasi kuat penggunaan biji pinang sejak 25.000 tahun yang lalu.

Temuan spektakuler ini membuktikan bahwa pemanfaatan tanaman yang mengandung senyawa psikoaktif oleh manusia prasejarah telah berlangsung jauh lebih awal dari perkiraan para ilmuwan sebelumnya.

Riset kolaboratif ini dilakukan oleh tim arkeolog internasional yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University Australia, serta telah resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi dunia, Science Advances.

Jejak penggunaan pinang tersebut pertama kali terdeteksi melalui pola keausan gigi yang sangat tidak biasa pada dua individu manusia purba. Peneliti BRIN, Fakhri, menjelaskan bahwa analisis awal dimulai dari pengamatan makroskopis terhadap kondisi morfologi gigi dan indikasi paleopatologi.

Sampel pertama berasal dari Leang Bulu Bettue, Maros, yang diperkirakan hidup pada masa Pleistosen Akhir sekitar 25.000 hingga 16.000 tahun lalu. Giginya menunjukkan pola keausan melingkar (circumferential wear) yang sangat kuat pada bagian geraham.

Pola unik serupa juga ditemukan pada spesimen CPL-R2 dari Leang Cappa Lombo, Bone. Individu laki-laki dewasa berusia 33–50 tahun ini hidup pada masa Holosen Tengah, sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu.

Awalnya, tim peneliti mengira pola keausan ekstrem tersebut dipicu oleh aktivitas pemanfaatan gigi sebagai alat bantu kerja, seperti mengunyah serat tanaman untuk membuat tali.

Namun, Peneliti Geoarkeologi dari Griffith University, Basran Burhan, mengungkapkan bahwa hipotesis tersebut berkembang setelah ditemukan indikasi adanya benda bulat berukuran 1–2 sentimeter yang dikulum atau dikunyah secara berulang di dalam mulut dalam jangka waktu lama.

Analisis Biomolekuler Buktikan Keberadaan Residu Alkaloid Arecoline pada Karang Gigi

Untuk membuktikan dugaan tersebut secara ilmiah, tim peneliti menggunakan metode canggih Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LC-MS) untuk menganalisis residu kimiawi yang terperangkap pada kalkulus (karang gigi) fosil tersebut.

Hasil analisis biomolekuler secara mengejutkan mengonfirmasi keberadaan arecoline, yaitu senyawa alkaloid utama pada biji pinang (Areca catechu). Senyawa ini dikenal memiliki efek psikoaktif yang bekerja sebagai stimulan sistem saraf pusat.

Evolusi Penemuan Jejak Pinang Prasejarah Sulawesi Selatan Lokasi Penemuan Uji Sampel & Indikator Ilmiah

| Leang Bulu Bettue | Mase Pleistosen Akhir (25.000 - 16.000 Tahun Lalu).
| (Maros, Sulsel) | Pola geraham: Circumferential wear (keausan melingkar).
| Leang Cappa Lombo | Masa Holosen Tengah (7.600 - 6.300 Tahun Lalu).
| (Bone, Sulsel) | Spesimen CPL-R2: Laki-laki dewasa (33–50 tahun).
| Uji Laboratorium | Metode LC-MS mendeteksi residu alkaloid Arecoline
| (LC-MS) | (zat aktif biji pinang sebagai stimulan sistem saraf).

Temuan ini menjadi bukti arkeologis tertua di dunia mengenai konsumsi tanaman psikoaktif oleh manusia prasejarah. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa masyarakat prasejarah Sulawesi telah memanfaatkan sifat stimulan pinang ribuan tahun sebelum tradisi menyirih dikenal secara luas di Nusantara.