
KUNMING, Letternews.net – Peringatan Hari Koperasi nasional tahun ini menjadi momentum krusial untuk meneguhkan kembali komitmen Indonesia pada sistem demokrasi ekonomi yang berlandaskan asas kekeluargaan. Koperasi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan wujud nyata dari sila kelima Pancasila—sebuah sistem ekonomi mandiri yang menempatkan martabat manusia di atas modal.
Catatan refleksi mendalam ini ditulis langsung dari Kunming, ibu kota Provinsi Yunnan, Tiongkok, di sela-sela kunjungan delegasi Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) atas undangan resmi dari All China Journalists Association (ACJA).
Indonesia dinilai perlu belajar banyak dari lompatan besar Provinsi Yunnan. Wilayah di barat daya Tiongkok yang kaya akan keanekaragaman hayati ini sukses bertransformasi menjadi pelopor ekonomi hijau global. Yunnan berhasil beralih total dari model ekonomi eksploitatif menuju pendekatan ekosistem yang berkelanjutan berkat optimalisasi gerakan koperasi di tingkat akar rumput.
[irp]
Di Yunnan, koperasi memainkan peran sentral sebagai agen perubahan. Koperasi berhasil mengorganisir para petani dan produsen kecil untuk menerapkan praktik pertanian regeneratif secara kolektif. Melalui wadah ini, pelaku usaha mikro pedesaan mendapatkan akses pelatihan teknologi pertanian modern, sertifikasi organik, hingga manajemen rantai pasok yang efisien.
Dampaknya luar biasa, petani lokal mampu mendongkrak nilai tambah komoditas unggulan—seperti teh organik, kopi, dan tanaman herbal—sehingga pendapatan mereka melonjak tajam tanpa harus melakukan ekspansi lahan yang destruktif.
Pemerataan Akses Energi Bersih: Koperasi komunitas di Yunnan juga menjadi motor penggerak demokratisasi teknologi bersih. Mereka menginisiasi proyek instalasi biogas dari limbah pertanian, koperasi kehutanan pelindung mata air, hingga ekowisata berbasis masyarakat. Dengan model kepemilikan bersama, keuntungan ekonomi terdistribusi adil kepada warga lokal, bukan menumpuk di korporasi raksasa.
[irp]
Secara historis, koperasi dunia lahir dari rahim Revolusi Industri Inggris abad ke-19 melalui gagasan komunitas mandiri Robert Owen. Di Indonesia, koperasi lahir sebagai senjata pergerakan nasional melawan penindasan ekonomi penjajah.
Mohammad Hatta (Bung Hatta) kemudian hadir sebagai arsitek utama yang menahbiskan koperasi sebagai “soko guru” perekonomian nasional untuk mengangkat derajat rakyat kecil. Visi luhur ini diperkuat oleh Raden Mas Margono Djojohadikusumo (Pendiri BNI) yang menjunjung tinggi pengelolaan keuangan demi kemaslahatan domestik.
Tak ketinggalan, ekonom legendaris Profesor Sumitro Djojohadikusumo—yang juga ayah dari Presiden Prabowo Subianto—turut menyumbang cetak biru penting. Melalui konsep pembangunan sistematis, Sumitro menekankan bahwa koperasi harus bertransformasi menjadi badan usaha modern yang efisien namun tetap setia pada akar kekeluargaan.
[irp]
Di tengah tantangan globalisasi, relevansi koperasi kini semakin kuat. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Koperasi Ferry Juliantono, semangat ekonomi kerakyatan kembali mendapatkan panggung utama dalam program strategis nasional, khususnya swasembada pangan dan hilirisasi industri. Koperasi pedesaan ditempatkan sebagai mitra utama pemerintah untuk memastikan distribusi kesejahteraan yang merata.
Namun, tantangan koperasi masa kini telah bergeser. Koperasi wajib mengadopsi prinsip pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) serta ramah lingkungan berbasis ESG (Environmental, Social, and Governance).
Langkah ini sejalan dengan komitmen “Tobat Ekologi” yang telah diproklamirkan oleh Menteri Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat. Pertumbuhan ekonomi nasional tidak boleh diraih dengan mengorbankan ekosistem alam. Koperasi masa kini didorong memanfaatkan energi terbarukan dan mempercepat digitalisasi sistem manajemen demi transparansi usaha.
Koperasi Indonesia harus berani melakukan lompatan besar: bertransformasi dari sekadar unit simpan pinjam menjadi korporasi rakyat yang tangguh, profesional, dan menguasai sektor produksi strategis baik di kancah nasional maupun internasional.
Penulis: Dr. Teguh Santosa (Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia / JMSI)
Editor: Rudi
Mari bergabung bersama kami!
Gabung di saluran Whatsapp resmi kami: Klik di Sini
Gabung di Grup Whatsapp Pembaca Setia kami: Klik di Sini