Di Jayasabha: Wayan Koster Bedah Filosofi Sad Kerthi di Hadapan Akademisi Kelautan Se-Indonesia

 Di Jayasabha: Wayan Koster Bedah Filosofi Sad Kerthi di Hadapan Akademisi Kelautan Se-Indonesia

Foto: Wayan Koster, saat menjamu gala dinner Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Perikanan dan Kelautan Indonesia (FKPTPKI) di Istana Jayasabha, Denpasar, Rabu (20/5/2026) petang.

DENPASAR, Letternews.net – Pemerintah Provinsi Bali menegaskan komitmennya dalam mengawal arah pembangunan yang berbasis kearifan lokal (local genius) serta berwawasan lingkungan. Hal tersebut diutarakan langsung oleh Ketua DPD PDI Perjuangan Bali yang juga Gubernur Bali periode 2018–2023, Wayan Koster, saat menjamu gala dinner Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Perikanan dan Kelautan Indonesia (FKPTPKI) di Istana Jayasabha, Denpasar, Rabu (20/5/2026) petang.

Di hadapan ratusan akademisi, dekan, dan rektor dari berbagai universitas nasional, Wayan Koster memberikan apresiasi tinggi atas suksesnya forum kemaritiman yang digelar selama dua hari di Universitas Udayana (Unud). Ia juga memperkenalkan Jayasabha sebagai situs bersejarah eks Istana Kerajaan Badung yang memiliki vibrasi historis dan spiritual kuat dalam menyambut tamu kehormatan dunia.

BACA JUGA:  Bali Menuju ‘Green Island’: Gubernur Koster dan PLN Akselerasi Ekosistem Kendaraan Listrik di Kawasan Wisata Utama

Membumikan Konsep Sad Kerthi: Memuliakan Alam secara Sekala-Niskala

Di hadapan para pakar kelautan nasional, Wayan Koster membedah konsep Sad Kerthi (Enam Penyucian Jiwa dan Alam) yang menjadi fondasi utama dalam menata pembangunan Pulau Dewata. Kebijakan ini dinilai sangat linier dengan upaya pelestarian ekosistem pesisir dan laut.

Dua pilar utama dari Sad Kerthi yang disoroti secara mendalam meliputi:

  • Segara Kerthi: Konsep luhur memuliakan laut sebagai sumber kehidupan dan peradaban. Di Bali, tradisi ini dirawat nyata melalui ritual adat seperti upacara Pekelem (konservasi spiritual) serta pembersihan pantai.

  • Wana/Tumpak Kerthi: Pendekatan memuliakan tumbuh-tumbuhan secara sekala (nyata) dan niskala (spiritual) lewat perayaan Tumpek Wariga yang diimplementasikan langsung dengan program penghijauan massal.

“Budaya Bali mengajarkan cara merawat bumi dan alam secara berkelanjutan. Masalah pembangunan ramah lingkungan sesungguhnya sudah lama hidup di Bali melalui warisan budaya. Setiap kerusakan yang terjadi di alam harus dikonservasi dan dipulihkan kembali,” tegas Koster.

BACA JUGA:  Maknai Hari Kasih Sayang Dresta Bali, Gubernur Koster Traktir Generasi Muda di 3 Kuliner Lokal Hits Ini!

Proteksi Produk UMKM Lokal dan Program Kuliah Gratis

Selain isu lingkungan, Koster juga memaparkan regulasi taktis berupa Peraturan Gubernur (Pergub) tentang pemanfaatan produk lokal Bali. Aturan ini mewajibkan hotel, restoran, dan pasar modern menyerap hasil pertanian, perikanan, serta produk UMKM lokal, di samping larangan penggunaan plastik sekali pakai serta styrofoam.

Di sektor sumber daya manusia (SDM), Koster menyinggung program Satu Keluarga Satu Sarjana yang telah menjalin kerja sama erat dengan 22 perguruan tinggi di Bali.

“Tahun ini saja, sudah hampir 100 mahasiswa dari keluarga tidak mampu yang kita bantu penuh, baik biaya kuliah hingga biaya hidupnya. Kami ingin memotong mata rantai kemiskinan lewat jalur pendidikan,” urainya.

Ke depan, kerja sama akademis akan diperluas secara spesifik melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) lewat program Praktek Lapangan (KKN) Tematik di desa-desa yang fokus pada sektor pertanian, perkebunan, dan ekonomi pedesaan.

BACA JUGA:  Kejati Bali Luncurkan Program “Jaga Desa”, Ajak Kepala Daerah dan Adat Perkuat Hukum di Tingkat Desa

Sinergi Akademisi dan Industri Menuju Indonesia Emas 2045

Merespons paparan tersebut, Rektor Universitas Udayana, I Ketut Sudiarsana, menegaskan bahwa forum FKPTPKI ini menjadi bukti konkret sinergi segitiga emas (triple helix) antara pemerintah daerah, akademisi, dan dunia industri.

“Tugas institusi pendidikan bukan hanya melahirkan kebijakan organisasi di atas kertas, tetapi bagaimana kita mampu melahirkan SDM unggul di bidang kemaritiman guna mengawal visi besar Indonesia Emas 2045,” kata Sudiarsana.

Apresiasi senada juga datang dari Ketua FKPTPKI Nasional, Agus Triyanto. Dirinya mengaku sangat terkesan dengan model tata kelola pembangunan Bali yang terintegrasi secara budaya.

“Kami harus banyak belajar dari Bali. Forum ini siap berkolaborasi dan saling berbagi untuk kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi perikanan dan kelautan ke depan,” pungkas Agus.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: