
DENPASAR, Letternews.net — Isu sampah di Bali kian mencapai titik nadir. Praktisi pariwisata sekaligus tokoh masyarakat Bali, Ketut Darmayasa, S.IP, MM, CHT, melontarkan kritik pedas sekaligus solusi konkret terkait penanganan limbah yang selama ini dianggap sebagai momok bagi pariwisata Pulau Dewata.
Dalam pernyataannya pada Rabu (13/5/2026), Darmayasa menegaskan bahwa Bali saat ini berada dalam kondisi “Darurat Anggaran Sampah” dan krisis kepedulian lingkungan.
[irp]
Darmayasa menawarkan skema alokasi anggaran yang berani untuk memutus rantai masalah sampah dari tingkat paling bawah. Menurutnya, pemberdayaan desa adalah kunci utama agar sampah tidak lagi menjadi musuh, melainkan kawan (bestie).
“Kasi saja Rp4 Miliar setiap desa, saya yakin sampah akan jadi ‘Bestie’. Dengan anggaran yang memadai, desa punya kemampuan finansial untuk mengelola sistem pengolahan sampah yang modern dan berkelanjutan,” ujar sosok yang juga dikenal sebagai praktisi ahli di industri perhotelan ini.
[irp]
Tak hanya soal uang, Darmayasa menyoroti perilaku masyarakat yang sering kali melompati tahapan fundamental dalam manajemen sampah. Ia mengajak masyarakat untuk kembali ke dasar etika lingkungan.
“Mari bersama-sama belajar ‘Cara Membuang Sampah’ yang benar sebelum kita belajar Memilah. Bagaimana mau memilah kalau cara membuangnya saja masih sembarangan? Kesadaran mendasar ini yang harus kita bangun kembali,” tambahnya dengan nada persuasif.
Pernyataan ini diharapkan menjadi tamparan bagi pemangku kebijakan agar tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur hilir (TPA), melainkan memperkuat pendanaan dan edukasi di tingkat hulu (desa dan individu).
Editor: Rudi.