Wana Kerthi: Gubernur Koster dan Jamintel Kejagung ‘Memuliakan’ Mangrove sebagai Benteng Masa Depan Bali
Foto: Gubernur Koster & Jamintel Kejagung tanam mangrove di Tahura Benoa. Target ruang hijau Bali naik 35%. Simak filosofi Wana Kerthi dalam menjaga alam.

BADUNG, Letternews.net – Gubernur Bali, Wayan Koster, bersama Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejagung RI, Prof. Reda Manthovani, melakukan aksi nyata penyelamatan lingkungan di Taman Hutan Raya (Tahura) Tanjung Benoa, Sabtu (25/4). Aksi penanaman mangrove ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya mendalam untuk “memuliakan” alam sesuai napas kearifan lokal Bali.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, serta jajaran Kejaksaan Tinggi Bali. Bersama-sama, mereka menanam bibit mangrove jenis Rhizophora di tengah ancaman abrasi yang kian mengkhawatirkan.
Bukan Sekadar Memelihara, Tapi Memuliakan
Dalam orasinya, Gubernur Koster menegaskan bahwa pelestarian hutan di Bali berakar pada konsep Sad Kerthi, khususnya Wana Kerthi. Konsep ini mengajarkan manusia untuk memuliakan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan.
“Bukan sekadar memelihara, tetapi memuliakan. Karena mangrove adalah sumber kehidupan penghasil oksigen, sumber pangan, sekaligus penjaga keseimbangan alam,” tegas Koster.
Gubernur juga memaparkan target ambisius: meningkatkan cakupan ruang hijau Bali dari 20 persen menjadi 35 persen dalam empat tahun ke depan. Baginya, lingkungan yang sehat adalah modal utama daya saing pariwisata Bali di kancah global.
Solusi Permanen Melawan Abrasi
Koster menyoroti kenyataan pahit mengenai daratan Bali yang terus tergerus abrasi. Banyak lahan yang kini tinggal sertifikat karena fisiknya sudah hilang ditelan air laut. Mangrove dipandang sebagai solusi organik untuk memperkuat struktur tanah dan mempertahankan daratan, baik di utara maupun selatan Bali.
Apresiasi tinggi datang dari Jamintel Reda Manthovani. Ia memuji kekompakan pemerintah dan masyarakat Bali di bawah kepemimpinan Koster. Menurutnya, menanam mangrove bukan hanya memulihkan alam, tetapi juga membentuk karakter diri untuk terus bertanggung jawab terhadap bumi.
Simbol Pemulihan Ekosistem
Selain penanaman 2.000 bibit mangrove, acara ini juga diwarnai dengan pelepasan puluhan burung seperti cerucuk, kuntul, dan koak. Penyerahan bibit dilakukan kepada komunitas garda depan seperti Mangrove Care Forum, Simbar Segara, dan Mangrove Ranger.
Gubernur berharap langkah yang diinisiasi Kejaksaan ini menjadi pemantik bagi instansi pemerintah maupun swasta lainnya untuk menjadikan penanaman pohon sebagai rutinitas berkelanjutan, tanpa harus menunggu hari raya Tumpek Wariga.
Editor: Rudi.







