
DENPASAR, Letternews.net – Sebuah aksi kreatif dari seorang tenaga pendidik di Denpasar mendadak viral dan mencuri perhatian luas netizen di media sosial. Putu Putri Adelia Savitri, seorang guru Bahasa Bali di SDN 26 Dangin Puri, mengunggah momen uniknya saat mengoreksi lembar jawaban ujian siswa menggunakan gambar doodle sederhana dan catatan kecil yang dipersonalisasi sesuai karakter unik masing-masing muridnya.
Unggahan yang awalnya dibuat hanya untuk sekadar membagikan rutinitas mengajar tersebut di luar dugaan meledak di platform digital. Konten edukatif nan menyentuh hati ini sukses menembus jutaan penonton dan banjir apresiasi positif dari kalangan orang tua murid hingga pengamat pendidikan.
[irp]
Melalui metode koreksi lembar ujian yang interaktif dan penuh warna ini, guru yang akrab disapa Bu Putri tersebut ingin mengubah stigma bahwa momentum pembagian nilai ujian harus menjadi hal yang menegangkan bagi anak didik. Gambar doodle ekspresif ekspresi wajah lucu, karakter kartun, hingga pesan motivasi disematkan di samping angka nilai ujian.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Bu Putri berharap coretan visual ekspresif tersebut bisa membangkitkan suasana hati (mood) para siswa agar tetap senang dan bersemangat untuk belajar di kelas.
“Saya ingin membuat perasaan para siswa senang saat menerima kembali lembar jawaban mereka. Metode penilaian yang ceria ini sekaligus bertujuan untuk meminimalisir rasa sedih atau minder pada anak-anak ketika mereka kebetulan mendapatkan nilai di bawah rata-rata,” ungkap guru SDN 26 Dangin Puri ini.
[irp]
Langkah taktis yang dipraktikkan oleh Putu Putri Adelia mencerminkan pendekatan psikologi pendidikan yang humanis. Di tengah tuntutan kurikulum modern, sentuhan personal berupa apresiasi visual dinilai sangat efektif untuk menjaga kesehatan mental anak usia sekolah dasar (SD).
Berbagai komentar positif dari warganet terus mengalir. Banyak pihak berharap metode kreatif yang dilakukan guru Bahasa Bali di jantung Kota Denpasar ini dapat diadopsi dan menginspirasi para guru lainnya di Bali maupun tingkat nasional demi menciptakan iklim sekolah yang ramah anak.
Editor: Rudi.