LetterNews
21 September 2026
20:28 WITA
Topik Populer:
#KPK#Letternews#PLN#Bali#Korupsi#Polda Bali#Denpasar#Wayan Koster#Pemkot Denpasar#OJK

Terlalu Tangguh di Nusra, Mendagri Tito Ungkap Alasan Bali “Dinaikkan Kelas” Ladeni Regional Jawa

Foto: Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menyerahkan penghargaan pemerintah Daerah Berprestasi kategori Pengendalian Inflasi kepada Gubernur Bali Wayan Koster pada ajang apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Grand Ballroom Yogyakarta Marriott Hotel, Kamis (4/6/2026).

YOGYAKARTA, Letternews.net – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI, Muhammad Tito Karnavian, membeberkan sebuah alasan unik sekaligus membanggakan di balik pemindahan posisi Provinsi Bali dalam ajang Penghargaan Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026. Bali secara sengaja “digeser” dari regional asalnya di Nusa Tenggara untuk dimasukkan ke dalam klaster kompetisi ketat bersama provinsi-provinsi di Pulau Jawa.

Langkah berani ini diambil lantaran performa pembangunan sosial dan indikator makroekonomi Pulau Dewata di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster dinilai terlalu tangguh dan mendominasi jika tetap dipertahankan di regional asalnya, yaitu Bali-Nusa Tenggara (Nusra).

[irp]

Menjaga Kompetisi Sehat karena Bali Selalu Menang

Mantan Kapolri tersebut menjelaskan, jika peta kompetisi tidak diubah, iklim persaingan antardaerah menjadi tidak berimbang. Atas dasar kalkulasi angka-angka pertumbuhan ekonomi yang melesat cepat, Kemendagri akhirnya memutuskan untuk menaikkan kelas tanding Bali agar mendapatkan lawan yang sepadan di daratan Jawa.

“Bali sebetulnya dulu ikut regional NTB dan NTT. Tapi setelah kita melihat semua angka-angkanya, pertumbuhan ekonominya cepat, pembangunannya berjalan relatif cepat di sana. Kalau bertanding melawan NTB-NTT, menangnya Bali terus,” ungkap Tito Karnavian kepada awak media di Grand Ballroom Yogyakarta Marriott Hotel, dikutip Jumat (5/6/2026).

Menariknya, strategi pemindahan kelas ini rupanya tetap menempatkan Bali di panggung tertinggi. Dalam malam penganugerahan bergengsi tersebut, Pemprov Bali justru sukses menyapu bersih dua penghargaan Terbaik I sekaligus untuk regional Jawa-Bali, yakni pada Kategori Penanggulangan Kemiskinan dan Penurunan Stunting, serta Kategori Pengendalian Inflasi.

[irp]

Kredibilitas Penilaian Dijamin Objektif Tanpa Rekayasa

Mengingat dominasi Bali yang sangat kuat meski sudah dikepung oleh provinsi-provinsi besar di Jawa, Mendagri Tito Karnavian menegaskan bahwa dirinya turun langsung mengawasi kinerja tim penilai secara ketat. Ia memastikan seluruh proses penilaian berjalan murni objektif berdasarkan data kuantitatif riil milik Badan Pusat Statistik (BPS), mulai dari angka kemiskinan, pengangguran, stunting, hingga laju inflasi.

Tito menekankan, dirinya tidak ingin kredibilitas kementerian yang dipimpinnya tercoreng oleh isu miring atau kesan bahwa penghargaan tahunan ini bisa direkayasa demi kepentingan transaksional tertentu.

“Jadi kita pindahkan Bali bertanding lawan yang imbang di Jawa. Jujur saja, tim yang menilai betul-betul saya awasi. Saya katakan bahwa kredibilitas Kemendagri harus kita jaga, kalau tidak kita akan kehilangan marwah jika ini diatur-atur,” tegas Mendagri Tito.

[irp]

Ia menambahkan, salah satu bukti validitas data yang dipantau ketat secara nasional setiap minggu adalah angka pengendalian inflasi Indonesia yang saat ini terjaga stabil di angka 3,08 persen.

Mendagri pun menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh kepala daerah yang berhasil menorehkan prestasi nyata di lapangan. Ia berharap insentif fiskal dan penghargaan ini menjadi pemantik semangat untuk terus mendongkrak kualitas pelayanan publik, sekaligus menjadi bahan evaluasi motivasi bagi daerah yang belum berhasil membawa pulang piala tahun ini.

Editor: Rudi.