LetterNews
03 November 2026
04:19 WITA
Topik Populer:
#Letternews#KPK#PLN#Bali#Korupsi#Polda Bali#Wayan Koster#Denpasar#Pemkot Denpasar#OJK
27 June 2026 08:25 WITA
Penulis: Redaksi | Editor: Redaksi | Dipublikasikan: 27 June 2026, 08:25 WITA

Refleksi Kuningan 2026: I Komang Kusuma Edi Ajak Umat Menangkan Cara Berpikir dan Bertindak

Foto: I Komang Kusuma Edi (IKK)

DENPASAR, Letternews.net – Umat Hindu di seluruh pelosok Bali dan Indonesia hari ini merayakan Hari Suci Kuningan yang jatuh pada Sabtu (27/06/2026). Di balik kemeriahan hiasan penjor dan kesucian sarana upakara tamiang serta endongan, Kuningan sejatinya menyimpan esensi mendalam tentang sebuah kemenangan spiritual—sebuah momentum untuk memenangkan cara berpikir dan bertindak dalam mengarungi dinamika kehidupan.

Refleksi mendalam ini disampaikan oleh tokoh sekaligus pemikir sosial Bali, I Komang Kusuma Edi, yang akrab disapa dengan inisial IKK. Menatap tantangan hidup yang kian kompleks, IKK mengajak umat untuk tidak pernah kehilangan arah dan tetap merawat optimisme, meski dalam situasi tersulit sekalipun di mana mungkin hanya harapan yang tersisa.

Menurut IKK, setiap manusia pasti pernah melewati fase kelam atau mengalami hal buruk di dalam hidupnya. Namun, esensi sejati dari perayaan Kuningan adalah bagaimana manusia mampu bangkit dan melakukan rekonstruksi diri ke arah yang lebih baik.

“Hal buruk yang pernah terjadi dalam hidup biasanya tidak akan bisa diperbaiki, diubah, dan kembali seperti normal. Kecuali, kita punya niat tulus untuk memperbaikinya dengan bentuk lain, atas dasar motivasi agar hal-hal baik lebih banyak tercipta,” ungkap I Komang Kusuma Edi (IKK) di Denpasar, Sabtu (27/06/2026).

[irp]

Berdamai dengan Masa Lalu dan Menanam Benih Kebaikan Baru

Lebih lanjut, IKK menekankan bahwa meratapi kegagalan atau terbelenggu oleh memori kelam masa lalu adalah tindakan yang sia-sia. Ketika sebuah kesalahan atau peristiwa buruk telanjur terjadi, langkah paling bijak adalah menjadikannya sebagai batu pijakan untuk melangkah ke depan.

IKK membagikan tiga formula penting dalam menyikapi dinamika kehidupan pada momentum suci Kuningan ini:

  • Menyimpan Kenangan sebagai Guru: Menjadikan pengalaman buruk sebagai pelajaran berharga agar kesalahan serupa tidak terulang kembali di masa depan.

  • Melipatgandakan Kerja Baik: Mendampingi dan mengimbangi sisa kenangan buruk di masa lalu dengan memperbanyak kontribusi, karya, serta kerja-kerja baik yang nyata saat ini.

  • Melahirkan Kenangan Indah: Konsisten menabur benih kebaikan hingga pada akhirnya giliran kenangan indah dan kesuksesan yang terwujud secara nyata.

“Artinya, memang tidak ada yang sempurna di bawah matahari. Namun, jika kita terus berupaya tanpa henti, harapan itu akan selalu ada dan situasi sebenarnya masih dalam kendali kita,” tegas IKK.

[irp]

Filosofi Air Sungai yang Tenang: Kunci Menemukan Kejernihan Solusi

Dalam pesan moralnya, IKK juga mengajak krama Bali untuk membangun suasana hati dan pikiran yang tentram serta rileks. Ketika dihadapkan pada suatu konflik atau masalah yang berat, ketenangan batin adalah modal utama agar manusia bisa melahirkan sikap peduli dan menemukan jalan keluar yang bijaksana.

Ia menganalogikan ketenangan pikiran manusia seperti hukum alam yang terjadi pada sebuah aliran sungai.

“Bukankah dengan air sungai yang tenang dan jernih, kita akan bisa melihat dengan jelas batu-batu di dasar dan ikan-ikan yang sedang berenang? Begitu pula dengan pikiran kita. Dalam ketenangan, segala masalah akan menemukan kejernihannya,” jelas IKK penuh filosofi.

Menutup refleksinya di Hari Suci Kuningan ini, I Komang Kusuma Edi (IKK) berharap momentum ini menjadi tonggak sejarah bagi setiap individu untuk memenangkan pertempuran di dalam diri, yaitu kemenangan cara berpikir yang jernih dan tindakan yang membawa kemaslahatan bagi sesama (Mharma Sadhu).

Editor: Rudi