Polemik Rupiah Melemah: Prof Rhenald Kasali vs Bang Bennix, Siapa yang Benar?
Foto: Ilustrasi gambar

Letternews.net – Dunia media sosial kita tidak pernah sepi dari kegaduhan yang bermutu. Kali ini, giliran dua tokoh beken yang baku hantam argumen dengan sangat seru. Jagat maya dihangatkan oleh perdebatan sengit antara akademisi terkemuka Prof Rhenald Kasali dan praktisi bisnis Bang Bennix.
Tema debat mereka sebenarnya klasik namun sangat sensitif, yaitu fenomena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Menariknya, Bang Bennix melempar logika yang memicu dahi berkerut. Ia mengklaim bahwa Indonesia justru mendulang untung besar jika nilai mata uang rupiah terus merosot. Lho, kok bisa? Logika tersebut memang masuk akal jika kita hanya menggunakan satu sudut pandang saja, yakni kacamata pengusaha eksportir.
Di tengah riuhnya perdebatan, penjelasan dari konten kreator sekaligus akademisi ITB, Alif Hijriah (lewat akun @Aliftowew), membuat saya tertegun. Sosok yang konon pernah diundang Presiden Prabowo untuk mempresentasikan analisis ekonomi negara ini menjabarkan polemik kurs tersebut secara ringkas, jelas, dan berbasis data.
Mari kita bedah polemik ini menggunakan kacamata Cost-Benefit Analysis (CBA) atau analisis untung-rugi secara dingin.
Sisi “Untung”: Angin Segar Bagi Sektor Ekspor
Mari kita lihat terlebih dahulu sisi keuntungan yang menjadi dasar argumentasi Bang Bennix.
Pada tahun 2025, proyeksi nilai ekspor Indonesia berada di angka USD 282 miliar. Ketika rupiah melemah—tercatat melorot sekitar Rp1.155 per dolar sejak awal tahun hingga akhir Mei—maka nilai konversi dolar ke rupiah otomatis melonjak tajam.
Dengan rumus sederhana (nilai ekspor dikali selisih pelemahan kurs), sektor ekspor nasional mendapat tambahan angin segar sebesar Rp326,94 triliun. Angka yang fantastis inilah yang membuat para eksportir tersenyum lebar dan melahirkan klaim “Indonesia untung besar”.
Namun, ekonomi makro adalah koin yang memiliki dua sisi. Jangan hanya silau pada sisi yang mengkilap, lalu menutup mata pada sisi yang berkarat. Mari kita balik koin tersebut untuk melihat sisi “buntung”-nya.
Sisi “Buntung”: Bahan Baku Impor Mencekik Industri
Indonesia adalah negara industri, namun sayangnya struktur industri kita masih sangat tergantung pada pasar luar negeri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), fakta mengerikannya adalah 90,73 persen impor Indonesia bukan barang konsumsi mewah, melainkan bahan baku produksi dan barang modal. Nilainya mencapai USD 219,93 miliar.
Begitu rupiah keok, pabrik-pabrik di dalam negeri langsung menjerit. Biaya impor bahan baku membengkak sebesar Rp279,5 triliun. Jika tambahan keuntungan ekspor tadi dikurangi pembengkakan impor, kita memang masih melihat surplus tipis sekitar Rp47,44 triliun.
Tapi tunggu dulu, badai sesungguhnya baru datang dari dua arah ini: Inflasi dan Utang Luar Negeri (ULN).
Nombok Inflasi Rakyat dan Lonjakan Utang Luar Negeri
Akibat bahan baku impor (imported inflation) makin mahal, para pengusaha tentu tidak mau merugi sendirian. Beban biaya itu langsung dialihkan kepada konsumen. Harga gandum, susu, kedelai, hingga gula putih di pasar ritel otomatis merangkak naik.
Pelemahan kurs ini memicu inflasi sekitar 0,13 hingga 0,15 persen. Karena konsumsi rumah tangga menyumbang 54,36 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), masyarakat Indonesia dipaksa nombok tambahan biaya hidup sebesar Rp16,83 triliun hingga Rp19,42 triliun.
Lalu, mari kita lihat rajanya masalah: Utang Luar Negeri (ULN).
Posisi ULN Indonesia pada triwulan pertama berada di angka USD 433,4 miliar. Ketika rupiah melemah Rp1.155 per dolar, beban utang luar negeri kita otomatis membengkak sebesar Rp500,85 triliun.
Hitungan Akhir: Indonesia Tekor Rp472,83 Triliun!
Mari kita kalkulasikan seluruh pos kerugian nasional akibat pelemahan rupiah ini:
Sekarang, mari kita kurangkan keuntungan ekspor sebesar Rp326,94 triliun dengan total biaya kerugian Rp799,77 triliun. Hasil akhirnya menunjukkan angka minus yang sangat besar: Indonesia mengalami defisit agregat sebesar Rp472,83 triliun!
Secara hitungan makro, angka tidak pernah bisa berbohong. Kita buntung besar.
Mengapa Tiongkok Bisa Untung Saat Mata Uangnya Melemah?
Mungkin Anda bertanya, mengapa negara seperti Tiongkok justru sengaja membuat mata uang Yuan mereka tetap kompetitif cenderung melemah? Jawabannya adalah karena struktur ekonomi mereka sudah kokoh:
-
Volume ekspor barang jadi mereka berskala raksasa.
-
Ketergantungan impor bahan baku mereka sangat minim.
-
Beban utang luar negeri mereka sangat rendah dan memiliki cadangan devisa terbesar di dunia sebagai bumper.
Indonesia belum sampai di level itu. Jika kita ingin meraup untung saat rupiah melemah, ada tiga pekerjaan rumah (PR) berat yang wajib dituntaskan pemerintah:
-
Stop ekspor bahan mentah dan genjot program hilirisasi industri sekencang-kencangnya.
-
Wujudkan swasembada pangan dan energi sebagai harga mati agar tidak mendikte pasar lewat impor gandum, kedelai, atau minyak.
-
Kurangi ketergantungan Utang Luar Negeri berdenominasi dolar AS.
Solusi Mikro: Belanja Produk Lokal, Kurangi Tekanan Dolar
Menghadapi situasi ini, kita tidak perlu panik karena kepanikan tidak akan menurunkan kurs dolar. Namun, kita juga jangan abai dalam optimisme semu seolah-olah ekonomi kita sedang baik-baik saja.
Solusi terbaik ada pada kedewasaan kita masing-masing di tingkat mikro, tepatnya di dalam dompet kita sendiri. Caranya sangat sederhana namun konkret: Kurangi konsumsi barang impor dan beralihlah total ke produk lokal.
Jika Anda gemar minum kopi, belilah kopi lokal dari petani kita, bukan dari waralaba asing. Jika ingin berbelanja pakaian, pilih jenama lokal. Langkah kecil yang dilakukan bersama-sama secara kolektif ini akan mengurangi permintaan terhadap dolar AS dan memperkuat otot rupiah.
Bagi pelaku industri, mulailah kreatif mencari substitusi bahan baku lokal di dalam negeri. Ekonomi nasional adalah tanggung jawab kita bersama. Pemerintah menjaga stabilitas makronya, dan kita jaga ketahanan mikronya dengan bijak belanja. Hanya dengan cara itulah, saat rupiah sedang keok, bangsa ini tidak ikut ambruk. Mari kita ikat pinggang lebih kencang!
Oleh: Sony Fitrah Perizal (Ketua Jaringan Media Siber Indonesia / JMSI Jawa Barat)
Editor: Rudi.









