Pelopor Nasional, Bali Gelar Apel Siaga Pilah Sampah Menuju Target Bebas TPA Desember 2026

 Pelopor Nasional, Bali Gelar Apel Siaga Pilah Sampah Menuju Target Bebas TPA Desember 2026

Foto: Apel siaga dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, didampingi Gubernur Bali, Wayan Koster.

DENPASAR, Letternews.net – Pulau Dewata kembali mengukuhkan posisinya sebagai barometer nasional dalam tata kelola lingkungan hidup. Bali resmi menjadi provinsi pertama di Indonesia yang mengawali gerakan masif pilah sampah dari hulu. Langkah historis ini ditandai dengan pelaksanaan Apel Siaga Pilah Sampah yang dipusatkan di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala, Denpasar, pada Selasa (7/7/2026) sore.

Aksi kolosal ini sekaligus menjadi rangkaian penting menjelang agenda groundbreaking proyek strategis Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (8/7/2026) hari ini.

BACA JUGA:  Kemenag Tanggapi Soal Penolakan Pendirian Gereja

Sinergi Pusat dan Daerah Guna Mitigasi Risiko Kebakaran TPA

Apel siaga dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, didampingi Gubernur Bali, Wayan Koster. Agenda ini melibatkan ribuan peserta lintas sektor, mulai dari pelajar SD hingga SMA, jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH), TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga komunitas masyarakat sipil sebagai motor penggerak pengelolaan sampah berbasis sumber.

Gubernur Koster menegaskan bahwa kebersihan alam dan ketahanan pangan Bali sangat bergantung pada cara krama memperlakukan sampah. Gerakan ini sejalan dengan regulasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 yang diperkuat Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 9 Tahun 2025 tentang Gerakan Bali Bersih Sampah.

“Kita ingin memastikan paradigma penanganan sampah bergeser, yakni selesai di tempat dihasilkannya (source-based management), baik di rumah tangga, pasar, hotel, sekolah, maupun perkantoran. Sampah organik langsung diolah jadi pupuk penyubur pertanian, sedangkan non-organik didaur ulang agar bernilai ekonomi,” ujar Koster.

Wamenko Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq, turut memuji capaian Bali yang bertengger di posisi ketiga terbaik dalam Indeks Ketahanan Pangan Nasional dengan nilai 79,89. Namun, ia mengingatkan tantangan produksi sampah Bali yang menembus 3.500 ton per hari harus diselesaikan cepat guna menghindari tragedi kebakaran besar seperti yang menimpa TPA Suwung pada 2023 akibat gas metana.

“Bali adalah wajah Indonesia di mata dunia, maka Bali bersih tidak bisa ditawar lagi. Kami menargetkan seluruh pemerintah kabupaten/kota di Bali mampu menuntaskan persoalan sampah berbasis sumber ini paling lambat Desember 2026,” tegas Hanif.

BACA JUGA:  Pacu Pemerataan Infrastruktur Jalan di Desa, Cek Rabat Beton & Hotmix di Banyubiru, Bupati Kembang Hartawan Pastikan Jalan Mulus untuk Warga

10 Desa Adat Raih Penghargaan Lahsamor dari BRIN

Sebagai bentuk apresiasi nyata, acara ini turut diisi dengan penyerahan penghargaan kepada 10 desa dan desa adat di Bali yang dinilai sukses menjadi motor penggerak pemilahan sampah mandiri. Berikut daftar desa terbaik penerima penghargaan:

  • Kota Denpasar: Desa Sanur Kauh dan Desa Tegal Kerta.

  • Kabupaten Badung: Desa Kutuh, Desa Gulingan, dan Desa Pelaga.

  • Kabupaten Gianyar: Desa Taro, Desa Adat Cemenggoan, dan Desa Adat Padangtegal.

  • Kabupaten Tabanan & Buleleng: Desa Bengkel (Tabanan) dan Desa Bhakti Seraga (Buleleng).

Selain piagam, kesepuluh desa teladan ini menerima bantuan alat pengolah sampah organik skala rumah tangga mutakhir hasil inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dinamai Lahsamor. Agenda ini juga turut dikawal dan dihadiri langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan.

Editor: Rudi

.

Bagikan: