
DENPASAR, Letternews.net – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk memperkuat perlindungan konsumen di sektor jasa keuangan. Acara ini berlangsung di Kantor OJK Bali pada beberapa minggu lalu, bertujuan menyamakan pemahaman Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) tentang Peraturan OJK (POJK) Nomor 22 Tahun 2023 dan merumuskan strategi penerapannya.
Plh. Kepala OJK Provinsi Bali, Ananda R. Mooy, menyampaikan bahwa POJK 22/2023 menjadi landasan utama untuk memastikan tata kelola yang adil, transparan, dan akuntabel antara PUJK dan konsumen.
“Seluruh PUJK perlu menjadikan perlindungan konsumen sebagai fondasi utama dalam menjalankan bisnis. Prinsip-prinsip ini tidak hanya sebatas kewajiban normatif, tetapi juga harus menjadi budaya,” kata Ananda.
[irp]
POJK 22/2023 menggariskan tujuh prinsip yang harus diterapkan PUJK, meliputi:
[irp]
FGD ini diikuti oleh berbagai PUJK yang berpusat di Bali, termasuk bank konvensional, BPR, dana pensiun, dan lembaga pegadaian swasta. Perwakilan dari NTT dan NTB juga turut hadir.
OJK menegaskan, pengawasan ganda yang mereka lakukan, yaitu pengawasan prudensial (kesehatan lembaga) dan market conduct (praktik usaha), menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sektor jasa keuangan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Editor: Rudi.