Milad Ke-35 ICMI di Bali: Ketua Umum Prof. Arif Satria Dorong Cendekiawan Muslim Pimpin Inovasi, Kuatkan Pendidikan Dini, dan Advokasi Keberlanjutan Ekologis

 Milad Ke-35 ICMI di Bali: Ketua Umum Prof. Arif Satria Dorong Cendekiawan Muslim Pimpin Inovasi, Kuatkan Pendidikan Dini, dan Advokasi Keberlanjutan Ekologis

Foto: Ketum ICMI Prof. Arif Satria di Milad ke-35 (5/12) Bali desak Cendekiawan Muslim pimpin Inovasi dan Advokasi Keberlanjutan Ekologis. Fokus utama: Investasi Pendidikan Usia Dini, Ekonomi Syariah, dan Hilirisasi Inovasi untuk Generasi Emas 2045.

BALI, Letternews.net – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) merayakan hari jadinya yang ke-35 tahun dengan menyelenggarakan Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) dan Milad di Hotel Four Points, Jimbaran, Bali, Jumat (5/12/2025) malam. Dalam pidato pembukaannya, Ketua Umum ICMI, Prof. Arif Satria, yang juga Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menggarisbawahi peran sentral cendekiawan muslim dalam memimpin perubahan menuju Generasi Emas 2045.

Menurut Prof. Arif Satria, setelah 35 tahun mengawal perubahan, ICMI kini dituntut untuk meningkatkan perannya.

“Saat ini, ICMI dituntut tidak sekadar menginspirasi, tetapi juga memimpin inovasi dan melakukan advokasi publik, karena menjadi bagian dari civil society,” ungkap Arif.

BACA JUGA:  Cheap smartphone sensor could help you old food safe eat

Investasi Terbesar di Pendidikan Usia Dini dan Karakter

Prof. Arif Satria menekankan bahwa fondasi kemajuan ekonomi bangsa harus dimulai dari investasi di pendidikan usia dini, bukan semata-mata pendidikan tinggi. Mengutip peraih Nobel Ekonomi, James Heckman, Prof. Arif menyatakan pendidikan dini membangun modal keterampilan sosial dan karakter yang dibutuhkan generasi penerus.

ICMI telah lama merintis hal ini melalui pendirian sekolah Insan Cendekia, dan kini terus mempersiapkan perluasan sekolah guna memperkuat modal keterampilan sosial dan keterampilan hidup generasi masa depan.

BACA JUGA:  Denpasar Ditunjuk Kemendagri Sebagai Pilot Project Program Resiko Kebakaran

Inovasi dan Ekonomi Berbasis R&D: Keniscayaan Masa Depan

Menyambut Visi Generasi Emas 2045, Prof. Arif Satria mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi akan selalu bertumpu pada kekuatan inovasi dan R&D (Research and Development), bukan lagi hanya bergantung pada sumber daya alam.

Sayangnya, Indonesia saat ini masih tertinggal dalam Global Supply Innovation Index di urutan ke-55 dunia, dan berada di urutan ke-6 di Asia Tenggara.

“Ekonomi yang akan bertumpu ke depan adalah ekonomi berbasis pada kekuatan R&D, kekuatan human capital, kekuatan entrepreneurship,” tegasnya.

Untuk mengejar ketertinggalan, program-program ICMI di daerah, seperti Innovation Hub dan sekolah Insan Cendekia, didorong untuk mempercepat proses hilirisasi inovasi.

BACA JUGA:  Kiprah Kadek Agus, Petugas Dispatcher PLN Dalam Menjaga Terang Selama Libur Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 2025

ICMI Harus Advokasi Keberlanjutan Ekologis

Di akhir sambutannya, Prof. Arif Satria menyoroti dua fokus penting lainnya:

  1. Ekonomi Syariah dan Industri Halal: Dinyatakan sebagai masa depan Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim, dan menjadi fokus pembahasan utama dalam Silaknas.

  2. Pembangunan Berkelanjutan (Sustainability): Prof. Arif mendesak ICMI untuk menunjukkan pandangan kritis dalam membangun prinsip-prinsip sustainability dalam pengelolaan hutan, tambang, pangan, dan energi. Hal ini menegaskan peran ICMI sebagai civil society yang mengawal pembangunan yang selaras dengan konservasi lingkungan hidup.

BACA JUGA:  Sun Star Motor Bali Luncurkan New Xpander dan New Xpander Cross

Milad ke-35 dan Silaknas ICMI di Bali ini diharapkan menjadi momentum bagi cendekiawan muslim untuk memimpin perubahan nyata, khususnya dalam inovasi dan advokasi kebijakan publik yang mengedepankan keberlanjutan ekologis.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: