Membedah “Agama Bali Hindu” Karya I Gst Bagus Sugriwa: Pesan Filosofis Menuju Ketentraman Tawur Kesanga

 Membedah “Agama Bali Hindu” Karya I Gst Bagus Sugriwa: Pesan Filosofis Menuju Ketentraman Tawur Kesanga

Foto: Diskusi hangat Tawur Kesanga merujuk buku Agama Bali Hindu karya I Gst Bagus Sugriwa. Made Somya Putra: Pengetahuan sejati harus buat tentram, bukan gaduh.

DENPASAR, Letternews.net – Di tengah hiruk-pikuk disrupsi informasi, sebuah diskusi mendalam bertajuk filosofi Tawur Kesanga digelar dengan menghadirkan warisan pemikiran tokoh intelektual Bali, I Gst Bagus Sugriwa. Diskusi ini menjadi istimewa karena menggunakan referensi utama buku legendaris “Agama Bali Hindu” atau yang dikenal sebagai Warisan Buku Kaki Wandra.

Acara yang berlangsung khidmat ini dipandu oleh Made Somya Putra sebagai moderator, yang berhasil menghidupkan dialektika antara teks klasik dengan realitas sosial kemasyarakatan saat ini.

BACA JUGA:  Polda Bali Siagakan Ratusan Personel Amankan Konferensi FBI di Nusa Dua

Ngiring Tandurin Karang Dewek: Menanam Kebijaksanaan di Dalam Diri

Dalam diskusi tersebut, muncul pesan kuat mengenai pentingnya introspeksi melalui ungkapan “Ngiring tandurin karang dewek dumun”. Pesan ini mengajak krama Bali untuk terlebih dahulu “menanam” nilai-nilai baik di dalam diri sendiri sebelum memberikan penilaian ke luar.

Made Somya Putra menekankan bahwa pengetahuan yang benar seharusnya membawa kedamaian, bukan kekacauan.

“Kita membekali diri dengan pengetahuan, namun perlu diingat bahwa pengetahuan yang memicu kegaduhan bukanlah pengetahuan yang sejati,” ungkapnya dalam sesi diskusi.

BACA JUGA:  Wayan Koster Ajak Umat Islam Rawat Kebhinekaan di Bali

Etika Berkomunikasi: Antara Memunyi, Ngomong, dan Ngeraos

Salah satu poin paling menarik yang dibedah adalah perbedaan mendasar dalam tingkatan berkomunikasi menurut kearifan lokal Bali:

  1. Memunyi: Identik dengan suara makhluk hidup/binatang (beburon).

  2. Ngomong: Sering kali hanya mengedepankan ego yang berpotensi memicu kekisruhan (kababyuhan).

  3. Ngeraos: Inilah tingkat komunikasi tertinggi yang dilandasi etika dan kebijaksanaan untuk menciptakan ketentraman.

Pesan ini sangat relevan menjelang hari suci Nyepi dan ritual Tawur Kesanga, di mana masyarakat diharapkan mampu menjaga laku dan ucapan agar tidak terjebak dalam “setata uyut” (selalu ribut) hanya karena hal-hal yang tidak esensial.

BACA JUGA:  Baru Jabat Dua Bulan Kepala SMK Farmasi Saraswati 3 Denpasar Cetak Juara 2 LKS Nasional 2025

Warisan I Gusti Bagus Sugriwa Tetap Relevan

Kebanggaan tersendiri muncul saat buku Agama Bali Hindu karya I Gst Bagus Sugriwa menjadi rujukan utama. Pemikiran beliau dianggap masih sangat kokoh menjadi pondasi dalam memahami tata upacara dan filosofi beragama di Bali, terutama dalam memaknai esensi Tawur Kesanga sebagai upaya harmonisasi alam semesta dan diri manusia.

Diskusi ini bukan sekadar bedah buku, melainkan sebuah pengingat bahwa warisan literatur Bali adalah obor yang harus terus dinyalakan untuk menjaga nalar sehat dan spiritualitas krama Bali.

Editor: Rudi

.

Bagikan: