
DENPASAR, Letternews.net – Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Bali menorehkan catatan bersejarah dalam pengembangan kualitas sumber daya manusianya. Bertempat di Sanggar Bakti Pramuka Kwarda Bali, Renon, Sabtu (7/3/2026), empat tokoh senior dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) Wilayah Asia-Pasifik hadir langsung untuk memberikan pelatihan dalam workshop internasional bertajuk “Innovative Scout Training Methods: Asia-Pacific Best Practices for Bali”.
Ketua Kwarda Bali, Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si. (Cok Ace), secara resmi membuka acara yang dihadiri oleh 35 pelatih terbaik dari 9 Kwartir Cabang (Kwarcab) se-Bali. Dalam sambutannya, Cok Ace menegaskan bahwa kehadiran para pimpinan regional ini adalah kesempatan emas yang langka.
[irp]
Kehadiran delegasi WOSM ini dipimpin langsung oleh J. Rizal C. Pangilinan (Regional Director WOSM Asia-Pasifik) bersama Hiroshi Shimada (First Vice-Chairman Asia-Pacific Regional Scout Committee), dan Syd Castillo (Director for Educational Methods).
“Kehadiran Bapak-bapak terhormat bukanlah kunjungan biasa. Ini adalah momen bagi kami untuk belajar bagaimana Jepang membangun kepemimpinan berkarakter dan bagaimana Filipina mengelola sistem pelatihan yang terstruktur,” ujar Cok Ace.
Ia juga menyoroti kehadiran Syd Castillo dan Arjay Francisco yang membawa “resep rahasia” terkait Course for Leader Trainers (CLT) dan Dialogue for Peace—materi tingkat dunia yang selama ini hanya bisa dipelajari melalui dokumen formal.
[irp]
Cok Ace menekankan bahwa meskipun metode yang diajarkan bersifat internasional, para pelatih Bali harus mampu melakukan adaptasi lokal. “Bali adalah pulau kecil dengan mimpi besar. Kita tidak bisa menggunakan metode ‘satu ukuran untuk semua’. Para pelatih dari Gianyar hingga Buleleng harus kritis memodifikasi ilmu ini agar relevan dengan karakteristik daerah masing-masing,” tambahnya.
Workshop yang berlangsung selama empat jam ini menggunakan kerangka kerja “Know-Do-Be”, mencakup topik modern seperti pedagogi digital, modernisasi keterampilan kepanduan, serta karakter di era digital.
[irp]
Dalam kesempatan tersebut, Kwarda Bali menitipkan tiga harapan utama:
Penerapan metode pelatihan inovatif meski dengan keterbatasan infrastruktur.
Membangun jaringan kerja sama jangka panjang, menjadikan Bali sebagai proyek percontohan WOSM di Indonesia.
Membuktikan bahwa Pramuka Bali serius dalam pendidikan kepanduan, melampaui citra Bali sebagai destinasi wisata semata.
“Jangan hanya bawa pulang sertifikat, tapi bawalah komitmen untuk mengubah cara kita melatih dan menjadikan Kepanduan Bali lebih baik,” pungkas Cok Ace.
Editor: Rudi.