Kasus HIV/AIDS di Bali Capai 21 Ribu, Ibu Putri Koster Serukan Sosialisasi Masif Tanpa Henti

 Kasus HIV/AIDS di Bali Capai 21 Ribu, Ibu Putri Koster Serukan Sosialisasi Masif Tanpa Henti

Foto: Ibu Putri Koster dorong sosialisasi masif untuk tekan angka HIV/AIDS di Bali. Soroti fenomena ibu rumah tangga terpapar dan ajak masyarakat jauhi perilaku berisiko.

DENPASAR, Letternews.net – Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ibu Ni Putri Suastini Koster, memberikan atensi serius terhadap fluktuasi kasus HIV/AIDS di Pulau Dewata yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di sektor kesehatan. Dalam diskusi hangat bersama Ketua Yayasan Spirit Paramacita, Putu Ayu Utami Dewi, di Gedung Jayasabha, Sabtu (21/2/2026), ia menegaskan pentingnya konsistensi edukasi agar isu ini tidak hanya muncul sesaat lalu terlupakan.

BACA JUGA:  Gunakan Dana PPK Ormawa Tahun 2022, UKM Pramuka Universitas Udayana Laksanakan Pengabdian Gali Potensi di Desa Songan B

Fenomena Mengkhawatirkan: Ibu Rumah Tangga dan ASN Terpapar

Dalam pertemuan tersebut, Ayu Utami mengungkapkan data yang cukup mengejutkan. Saat ini tercatat sekitar 21 ribu Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Bali, di mana 12 ribu di antaranya berada dalam pendampingan yayasan.

Mirisnya, tren penularan kini banyak menyasar kelompok yang selama ini dianggap berisiko rendah. “Banyak ibu rumah tangga hingga ASN yang terpapar karena perilaku tidak setia pasangan mereka. Hal ini memicu trauma mendalam, bahkan ada dorongan untuk bunuh diri atau keinginan balas dendam karena mereka merasa sudah menjadi orang baik-baik namun tetap tertular,” papar Ayu Utami.

Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan saat ini bukanlah dukungan dana, melainkan komitmen politik dan dukungan pemerintah serta organisasi seperti PKK untuk memperluas jangkauan edukasi.

BACA JUGA:  Putri Koster Dorong Peran Desa dalam Pengelolaan Sampah

Sosialisasi Harus Menjadi “Menu Harian”

Menanggapi fakta tersebut, Ibu Putri Koster menilai penanganan HIV/AIDS seringkali bersifat pasang surut. “Isu ini seperti timbul dan tenggelam. Dibahas saat ada momentum, lalu dilupakan. Kita tidak boleh tinggal diam,” tegasnya.

Ibu Putri Koster mengamati bahwa meskipun stigma negatif terhadap ODHA mulai memudar seiring meningkatnya pemahaman masyarakat, tantangan baru justru muncul pada sisi pencegahan penularan.

BACA JUGA:  Ribuan Petugas Bersihkan Sampah Ogoh-ogoh

“Harus ada terobosan. Sosialisasi harus dilakukan lebih masif melalui berbagai kanal media. Kita harus mengajarkan masyarakat untuk bertanggung jawab pada diri sendiri, menjaga kesetiaan, dan menjauhi perilaku berisiko. Jika ada keluarga yang terpapar, jangan dikucilkan, tapi segera ambil tindakan medis yang tepat,” pungkas perempuan yang akrab disapa Bunda Putri ini.

Melalui sinergi antara TP PKK dan yayasan pendamping, diharapkan mata rantai penularan HIV/AIDS di Bali dapat ditekan, sekaligus memberikan ruang hidup yang lebih bermartabat bagi para penyintas tanpa diskriminasi.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: