LetterNews
21 September 2026
15:57 WITA
Topik Populer:
#KPK#Letternews#PLN#Bali#Korupsi#Polda Bali#Denpasar#Wayan Koster#Pemkot Denpasar#OJK

Jejak Sinyal Terakhir di Pulau Sebesi, Komdigi Beberkan Analisis Teknis Hilangnya Kontak Rombongan Jurnalis

Foto: 7 orang tercatat berada di atas kapal yang hingga kini masih dalam proses pencarian

LAMPUNG, Letternews.net Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama tiga operator seluler nasional membeberkan hasil pelacakan telekomunikasi terkait insiden hilang kontak rombongan jurnalis di perairan Selat Sunda. Berdasarkan data pelacakan sinyal Base Transceiver Station (BTS) terkini, posisi terakhir dari kedelapan perangkat seluler korban terdeteksi berada di sekitar perairan Pulau Sebesi, Lampung Selatan, sejak Senin (7/9/2026) lalu.

Penjelasan teknis ini memberikan gambaran komprehensif mengenai penyebab tidak adanya panggilan darurat selama 12 jam pertama serta alasan kedelapan perangkat seluler kehilangan sinyal secara bersamaan.

Berikut dua hipotesis utama analisis teknis telekomunikasi yang dirilis pihak Komdigi dan penyedia layanan seluler:

  • Skenario 1: Terombang-ambing di Area Blank Spot (Tanpa Bencana Tenggelam)

    • Zona Blank Spot Absolut: Radius perairan mendekati Gunung Anak Krakatau memicu pelemahan sinyal BTS secara drastis (no service).

    • Pengurasan Baterai Ekstrem (Max Power Transmission): Antena ponsel memancarkan daya maksimal secara terus-menerus untuk memindai jaringan hingga baterai habis total.

    • Aktivasi Airplane Mode: Langkah efisiensi baterai oleh jurnalis saat memasuki area tanpa sinyal demi menghemat daya selama meliput.

  • Skenario 2: Kejadian Hidrodinamis Mendadak (Tenggelam / Dihantam Gelombang)

    • Redaman Frekuensi Air Laut (Seawater RF Attenuation): Gelombang mikro radio (900–2100 MHz) terserap seketika oleh konduktivitas tinggi air laut, memutus sinyal 8 ponsel secara bersamaan (simultaneous signal loss).

    • Ponsel IP68 Tidak Membantu Transmisi: Segel tahan air hanya mencegah korsleting hardware, namun tidak mampu menembus hukum fisika redaman air laut.

    • Sempitnya Jeda Waktu Darurat: Guncangan fisik laut membuat korban tidak memiliki window of opportunity untuk menekan panggilan darurat.

“Hilangnya sinyal serentak tanpa adanya sisa transmisi periodik (ping) setelah pukul 15.04 WIB merupakan karakteristik kuat dari insiden perangkat yang secara bersamaan kehilangan akses udara bebas atau terendam air,” tegas tim analisis Komdigi.

Tim Gabungan Maksimalkan Operasi Pencarian

Pencarian rombongan jurnalis hingga kini terus dilakukan oleh tim SAR gabungan bersama aparat perairan terkait. Komdigi memastikan bahwa operator seluler terus membuka akses pelacakan jaringan guna mendukung pemetaan koordinat lokasi geografis terakhir di sekitar Pulau Sebesi dan kompleks Gunung Anak Krakatau.