LetterNews
03 November 2026
03:53 WITA
Topik Populer:
#Letternews#KPK#PLN#Bali#Korupsi#Polda Bali#Wayan Koster#Denpasar#Pemkot Denpasar#OJK
03 July 2026 07:23 WITA
Penulis: Redaksi | Editor: Redaksi | Dipublikasikan: 03 July 2026, 07:23 WITA

Gubernur Koster Suarakan Keadilan Ekonomi Petani Bali: Pertanian Organik dan Budaya Jangan Cuma Dieksploitasi Pariwisata

Foto: Gubernur Koster saat menerima audiensi resmi dari jajaran pengurus Forum Komunikasi Fakultas Pertanian Wilayah Indonesia Timur ring Ruang Tamu Kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar, Kamis (2/7).

DENPASAR, Letternews.net – Gubernur Bali, Dr. Ir. Wayan Koster, M.M., menegaskan komitmennya untuk mereformasi tata kelola ekonomi daerah dengan menyatukan sektor agraria dan industri pelesiran. Koster menyatakan bahwa pembangunan sektor pertanian wajib berjalan selaras dan seiring dengan ekspansi pariwisata berbasis budaya agar para petani lokal tidak lagi sekadar menjadi penonton di tanah sendiri.

Pernyataan bersikap tegas tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menerima audiensi resmi dari jajaran pengurus Forum Komunikasi Fakultas Pertanian Wilayah Indonesia Timur ring Ruang Tamu Kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar, Kamis (2/7).

Dalam pertemuan tersebut, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), I Putu Sudiarta, hadir memimpin delegasi untuk mengundang secara khusus orang nomor satu di Bali itu menjadi pembicara kunci (keynote speaker) pada Lokakarya dan Seminar Nasional Pertanian yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Juli mendatang.

[irp]

Sistem Pertanian Tradisional Bali Miliki Dimensi Spiritual yang Diminati Dunia

Pertemuan nasional tersebut diproyeksikan menjadi wadah bertukar gagasan akademik berskala besar. Sebanyak 90 dekan fakultas pertanian dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di wilayah Indonesia Timur dipastikan hadir, dengan total akumulasi peserta mencapai kurang lebih 200 orang delegasi.

Menanggapi undangan prestisius tersebut, Gubernur Koster menggarisbawahi bahwa selama puluhan tahun pariwisata Bali kerap kali mengeksploitasi keindahan visual bentang alam agraris tanpa memberikan kompensasi atau manfaat finansial yang sepadan kepada para petani selaku pemilik lahan sah.

“Pertanian harus berjalan sejalan dengan pariwisata. Banyak fasilitas pariwisata yang mengeksploitasi keindahan kawasan pertanian. Selain sebagai penyangga ketahanan pangan, kawasan pertanian juga menjadi objek wisata alam. Karena itu harus dikemas dengan baik agar petani memperoleh manfaat. Kalau hanya dilindungi tanpa peningkatan pendapatan petani, itu tidak adil,” tegas Koster.

Lebih lanjut, Gubernur Bali dua periode ini menjabarkan bahwa kekuatan utama pulau Bali terletak pada sistem pertaniannya yang menyatu erat dengan napas kebudayaan, tradisi leluhur, serta kearifan lokal. Jati diri inilah yang membedakan Bali dengan wilayah agraris lainnya di seluruh dunia.

Di Bali, aktivitas bertani bukan sekadar proses teknis menanam komoditas di sawah. Terdapat jalinan ritus upacara dan upakara suci yang melingkupi setiap fasenya, mulai dari pembibitan, tata kelola pengairan (Subak), hingga masa panen raya tiba. Dimensi teologis, spiritual, dan sosial inilah yang kini sedang dicari oleh peradaban global.

[irp]

Regulasi Pertanian Organik Bali Diakui Internasional dan Dipaparkan di London

Ketegasan regulasi lokal Bali dalam melindungi sektor agraria bahkan telah diakui secara global. Koster mengungkapkan bahwa konsep integrasi budaya dan pertanian organik ini telah sukses ia persentasikan dalam sebuah forum internasional di London, Inggris. Kehadiran Peraturan Daerah (Perda) tentang Pertanian Organik di Bali juga tercatat menjadi satu-satunya regulasi hukum proteksi organik sejenis yang ada di Indonesia.

Di tengah gempuran modernisasi dunia yang dinamis, Koster optimistis bahwa Bali tidak perlu lagi sibuk mencari jati diri karena akarnya sudah sangat kuat terpatri sejak zaman dahulu kala.

Tugas generasi saat ini adalah menggali, merawat, serta memperkuat kembali warisan tersebut. Pemerintah Provinsi Bali meyakini bahwa dengan proteksi regulasi yang tepat, Bali akan menjelma menjadi laboratorium studi internasional utama untuk riset kearifan lokal yang tidak dapat ditemukan di belahan bumi manapun.

Editor: Rudi