
BADUNG, Letternews.net – Gubernur Bali Wayan Koster tampil sebagai pembicara kunci (keynote speaker) dalam Seminar Nasional Lokakarya Forum Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) Wilayah Timur Tahun 2026 di The Patra Bali Resort, Tuban, Kabupaten Badung, Kamis (23/7/2026).
Di hadapan 140 akademisi pertanian dari 31 universitas se-Indonesia Timur, Gubernur Koster memaparkan strategi Pemprov Bali dalam mengendalikan laju alih fungsi lahan sekaligus mengintegrasikan sektor pertanian dengan pariwisata.
Koster mengungkapkan bahwa Bali menghadapi tantangan serius akibat laju alih fungsi lahan produktif yang mencapai 700 hektare setiap tahunnya. Jika dibiarkan, hal ini akan mengancam ketahanan pangan daerah dan eksistensi sistem Subak.
“Angka alih fungsi lahan cukup tinggi, 700 hektare setiap tahun. Kami keluarkan regulasi untuk mengunci lahan produktif. Boleh membangun hotel atau restoran, tetapi silakan di tanah kering atau yang tidak produktif,” tegas Gubernur Wayan Koster.
[irp]
Untuk membentengi sektor pertanian, Pemprov Bali memberlakukan strategi integrasi dari hulu ke hilir yang menghubungkan petani secara langsung dengan industri pariwisata:
Sektor Hulu (Agrowisata): Kawasan sawah dan perkebunan dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis agriculture tanpa mengubah fungsi lahan.
Sektor Hilir (Pergub No. 99/2018): Kewajiban bagi seluruh hotel dan restoran di Bali untuk menyerap dan memanfaatkan produk pertanian, perikanan, serta industri lokal Bali.
Pertanian Organik: Mendorong sertifikasi pertanian organik. Saat ini, sekitar 60 persen dari total 64.704 hektare lahan sawah di Bali telah tersertifikasi organik sesuai Perda Nomor 8 Tahun 2019.
[irp]
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Udayana, Prof. Ir. I Nengah Sujaya, bersama Ketua FKPTPI Wilayah Timur, I Putu Sudiarta, mengapresiasi kehadiran Gubernur Koster. Menurut mereka, integrasi pertanian dan pariwisata merupakan dua pilar utama yang saling menguatkan perekonomian Bali.
Melalui sinergi antara kebijakan pemerintah daerah dan riset akademisi perguruan tinggi, Bali diharapkan mampu mewujudkan kemandirian pangan berkelanjutan sekaligus menyejahterakan para petani.
Editor: Lilla