Demo di Depan DPR Memakan Korban, Ojek Online Tewas di Tengah Kericuhan
Denyut Nadi Emas Bali

Foto: Pantai Kuta
Denpasar, Letternews.net — Uang adalah denyut nadi yang menghidupkan ekonomi. Di Bali, denyut ini memiliki alur yang unik dan penuh paradoks. Awalnya, denyut pertama datang dari pusat, dari Jakarta, melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), serta berbagai proyek kementerian. Dana ini mengalir ke kas daerah, membayar gaji para pegawai negeri, dan dari sanalah uang mulai berputar: dari gaji ASN, ke pasar, ke petani, hingga perajin, menciptakan rantai ekonomi yang saling terhubung.
Namun, alur uang dari pusat saja tidaklah cukup. Kita telah menyaksikan kerapuhannya saat pandemi Covid-19 melanda. Saat turis berhenti datang, denyut nadi ekonomi Bali seolah terhenti. Jalanan lengang, bandara sepi, dan banyak warga terpaksa kembali ke desa untuk bertahan hidup. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa Bali memiliki sumber daya ekonomi yang berbeda dari daerah lain.
Emas yang Tak Ditambang
Bali tidak punya tambang emas, minyak, atau bauksit. Kekayaan utamanya adalah daya pikat yang tak ternilai, yang mampu menarik jutaan turis untuk datang dan dengan senang hati membelanjakan uangnya. Seorang turis bisa menghabiskan jutaan rupiah per hari untuk hotel, makan, souvenir, dan hiburan. Uang inilah yang menjadi “hujan” yang menetes ke setiap sudut pulau.
Uang yang dikeluarkan para turis ini tidak pernah hilang. Ia mengalir ke hotel, restoran, spa, hingga warung-warung kecil. Karyawan mendapat gaji, petani tersenyum, perajin tetap berkarya. Setiap rupiah dari turis ini bahkan kembali ke negara dalam bentuk pajak dan devisa. Sumbangan devisa dari pariwisata Bali bahkan menyumbang hampir setengah dari total devisa pariwisata nasional. Bali memang tidak menambang emas dari perut bumi, tetapi tanahnya sendiri adalah “emas hidup” yang tak bisa ditimbang.
Kerapuhan di Balik Keindahan
Paradoks ini juga memiliki sisi rapuh. Seluruh denyut nadi ekonomi Bali sangat bergantung pada kedatangan turis, yang bisa saja berhenti kapan pun. Ancaman seperti sampah yang menumpuk, kemacetan, atau hilangnya rasa aman bisa membuat para turis enggan kembali. Oleh karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah seberapa banyak turis yang datang, melainkan apa yang membuat mereka ingin kembali?
Menjaga Bali tetap lestari adalah kunci. Menjaga budaya, merawat keramahtamahan, dan melestarikan alam adalah investasi jangka panjang. Hal ini bukan hanya tugas warga Bali, tetapi juga tanggung jawab semua pihak, termasuk pemerintah pusat. Jangan sampai ambisi sesaat, seperti membangun bandara baru atau jembatan, justru merusak “emas hidup” yang telah menghidupi Bali dan Indonesia.
Ajeg Bali: Menjaga Denyut Nadi yang Berbeda
Paradoks Bali adalah tentang uang yang mengalir tanpa merusak, tentang sebuah “tambang” yang tidak memerlukan galian. Ini adalah ekonomi yang hidup dari senyum, keindahan, dan keramahan. Menjaga denyut nadi ini agar terus berdenyut adalah mutlak. “Ajeg Bali” adalah bukan sekadar slogan, melainkan sebuah keharusan untuk memastikan Bali tetap menjadi emasnya Indonesia, yang terus berkilau tanpa perlu ditambang.
Apakah kita semua menyadari bahwa menjaga kelestarian budaya dan alam Bali adalah satu-satunya cara untuk memastikan denyut nadi ekonomi ini tidak pernah berhenti?
Editor: Anto.