Barang Bukti Dirampas Negara: Gugatan Perdata Jadi Instrumen Tepat Bagi Pihak Ketiga Beritikad Baik
Darurat Kesehatan Mental Siswa, Formasi Guru BK Jadi Kebutuhan Tertinggi CASN 2027 di Bali
Foto: Drs. I Made Arbawa, M.Si., Sekretaris Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Provinsi Bali

DENPASAR, Letternews.net – Isu kesehatan mental siswa di sekolah kini makin menyita perhatian publik. Berdasarkan data pemetaan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali untuk usulan formasi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) 2027, posisi Guru Bimbingan Konseling (BK) menduduki urutan teratas dalam daftar kebutuhan tenaga pendidik tingkat SMA, SMK, dan SLB se-Bali.
Dari total 990 formasi pendidik yang diusulkan ke pemerintah pusat, sebanyak 142 formasi dialokasikan khusus untuk Guru BK. Alokasi ini secara signifikan melampaui mata pelajaran utama lainnya, seperti Guru Perhotelan yang berada di angka 113 orang maupun Guru Bahasa Inggris sebanyak 59 orang.
“Pengajuan 142 formasi Guru BK ini menjadi langkah strategis agar layanan pendidikan tidak berhenti sekadar pada transfer ilmu, melainkan juga menjaga ketahanan mental dan karakter generasi muda Bali,” tegas Drs. I Made Arbawa, M.Si., Sekretaris Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Provinsi Bali, Rabu (9/9/2026).
Tiga Faktor Utama Melonjaknya Kebutuhan Guru BK
Tingginya usulan Guru BK untuk sekolah tingkat menengah di Bali dipicu oleh beberapa dinamika strategis yang dihadapi peserta didik saat ini:
-
Tantangan Era Digital & Media Sosial: Maraknya perundungan siber (cyberbullying), kecemasan akademik, hingga krisis identitas di kalangan remaja memerlukan pendampingan profesional secara langsung di lingkungan sekolah.
-
Optimalisasi Rasio Pendampingan: Kerap kali satu Guru BK harus menangani ratusan siswa sekaligus. Rasio yang tidak seimbang ini membuat penanganan masalah siswa cenderung bersifat reaktif (menangani pelanggaran) ketimbang preventif (membimbing dan mendampingi).
-
Kesiapan Karier & Kurikulum Baru: Guru BK memegang peranan kunci dalam mengarahkan minat, bakat, serta kesiapan mental siswa menghadapi dunia perkuliahan maupun dunia kerja yang kian kompetitif.
Langkah antisipatif Pemerintah Provinsi Bali ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem sekolah yang aman, sehat secara mental, serta responsif terhadap kebutuhan tumbuh kembang siswa modern.
Editor: Rudi









